Rabu, 25 Februari 2015



PEMANFAATAN PUCUK TEBU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI SAPI BALI


Oleh :
Ian Roni Rezky Raja Rio M. Sigalingging
I11111336




PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014






Seminar  Studi Pustaka

PEMANFAATAN PUCUK TEBU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI SAPI BALI

Oleh :
Ian Roni Rezky Raja Rio M. Sigalingging
I11111336


PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014






HALAMAN PENGESAHAN

Nama                           : Ian Roni Rezky Raja Rio M. Sigalingging
Nim                             : I111 11 336
Judul                           Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong dan Pengaruhnya terhadap Produksi Sapi Bali.

Makassar,    Oktober 2014

Telah disetujui,


      Panitia Seminar                                              Dosen Pembimbing






Dr. Muh. Ihsan A. Dagong, S.Pt, M.Si         Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M.Sc
NIP. 19770526 200212 1 003                                      NIP. 19641231 198903 1 025




Mengetahui :
Ketua Program Studi Peternakan





Prof. Dr. Ir. Asmudin Natsir, M.Sc
NIP. 19590917 198503 1 033

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah studi literatur yang berjudul “Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong dan Pengaruhnya terhadap Produksi Sapi Bali”, sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas dari mata kuliah seminar.
            Pada kesempatan yang baik ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. H Sudirman Baco, M.Sc selaku pembimbing penulisan makalah seminar studi pustaka yang telah mencurahkan perhatian untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan mungkin masih terdapat kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu kritik dan saran perbaikan sangat diharapkan untuk revisi.


Makassar ,   Oktober 2014

               Penulis





DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................       i    
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................       ii   
KATA PENGANTAR ...............................................................................       iii
DAFTAR ISI ...............................................................................................       iv
DAFTAR TABEL ......................................................................................       v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................       vi
PENDAHULUAN ......................................................................................       1
PEMBAHASAN .........................................................................................       3
A.    Gambaran Umum Pucuk Tebu (Saccharum officinarum L.) ..       3
B.     Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong ...........       6
C.  Pengaruh Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong terhadap Produksi Sapi Bali                                                                           10
PENUTUP ...................................................................................................       14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................       15
LAMPIRAN




DAFTAR TABEL
No.                                                  Teks                                                 Halaman
1.                  Komposisi Zat-zat Makanan Pucuk Tebu Segar dan Rumput Gajah......       6
2.                  Nilai Nutrisi Pucuk Tebu pada Berbagai Perlakuan ................................       7
3.           Perbandingan Produktivitas Sapi Bali yang Diberi Pakan Hijauan Berupa Rumput Gajah dan Pucuk Tebu...................... .........................................................    10






















DAFTAR GAMBAR
No.                                                  Teks                                                 Halaman
1.                  Tanaman Tebu .........................................................................................       4





PENDAHULUAN
Sapi potong merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di daerah Indonesia demi memenuhi kesejahteraan masyarakat akan konsumsi daging. Secara genetik, kesesuaian dan kecukupan pakan yang disertai manajemen yang baik pada sapi potong akan dapat memberikan produksi yang tinggi. Oleh karena itu, perlu untuk memilih sumber pakan yang baik demi menjaga ke-stabilan fisiologis sapi agar dapat mencapai produktivitas semaksimal mungkin selama masa produksinya. Salah satu metodenya dapat dilakukan melalui manajemen pemeliharaan terkhusus manajemen pakannya.
Secara objektif, sebagian kecil daerah di antara beberapa wilayah Sulawesi Selatan masih memiliki keterbatasan sumber pakan hijauan berupa rerumputan. Terbatasnya ketersediaan hijauan ini mememaksa terjadinya peralihan kepada pemanfaatan sumber bahan pakan dengan kadar serat kasar tinggi dari hasil sampingan tanaman pangan. Jika ditimbang dari kualitas dan ketersediaannya, salah satu hasil sampingan tanaman pangan yang cocok untuk kriteria tersebut adalah pucuk tebu. Hasil sampingan berserat tersebut merupakan sumber bahan pakan yang memiliki palatabilitas yang baik dalam pemanfaatannya sebagai pakan sapi potong untuk menunjang Produksi Sapi Bali.
Pemanfaatan pucuk tebu yang banyak ditemukan dalam peternakan sapi pedaging adalah diberikan secara langsung pada ternak dalam keadaan utuh maupun melalui pencacahan sesuai ukuran kebutuhan. Dalam pemanfaatan pucuk tebu sebelum diberikan pada ternak juga dapat dilakukan pengolahan seperti dalam bentuk wafer, dalam bentuk pellet, melalui proses fermentasi, serta pembuatan silase pucuk tebu. Pengolahan dalam pemanfaatan pucuk tebu secara khusus ditujukan untuk memberi nilai tambah baik dari segi kandungan nutrisinya, daya cerna, hingga daya tahan terhadap lingkungan dan waktu. Sehingga setelah diberikan pada ternak diharapkan mampu memberi pengaruh pada produksi dan produktivitas yang lebih baik.
Dari itu, disadari perlunya mengenal berbagai macam pengolahan dalam pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan sapi potong dan bagaimana pengaruhnya terhadap Produksi Sapi Bali.
PERMASALAHAN
            Limbah industri gula berupa pucuk tebu yang melimpah namun pemanfaatannya dalam bentuk segar maupun olahan sebagai pakan sapi potong masih kurang. Salah satu solusi berkaitan hal tersebut adalah melalui pengetahuan akan potensi dari limbah pucuk tebu dalam pemanfaatannya sebagai pakan sapi potong dan pengaruhnya terhadap Produksi Sapi Bali. Maka masalah yang akan dibahas adalah pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan sapi potong dan pengaruhnya terhadap Produksi Sapi Bali.




PEMBAHASAN
A.    Gambaran Umum Pucuk Tebu (Saccharum officinarum L.)
Tebu diduga pertama kali ditemukan di New Guinea pada 6000 SM. Namun, budidaya tanaman ini baru dilakukan pada 1400-1000 SM di India. Dalam bahasa latin, tebu dikenal dengan sebutan 'saccharum', yang berasal dari kata 'karkara' dalam bahasa Sanskrit atau 'sakkara' dalam bahasa Prakrit. Tanaman tebu termasuk salah satu anggota dari familia Gramineae, sub familia Andropogonae. Tanaman tebu mempunyai sosok yang tinggi kurus, tidak bercabang, dan tumbuh tegak. Tinggi batangnya dapat mencapai 3-5 m atau lebih. Kulit batang keras berwarna hijau, kuning, ungu, merah tua, atau kombinasinya. Pada batang terdapat lapisan lilin yang berwarna putih keabu-abuan dan umumnya terdapat pada tanaman tebu yang masih muda (Tjokroadikoesoemo dan Baktir, 2005).
Klasifikasi ilmiah dari tanaman tebu menurut Tarigan dan Sinulingga (2006) adalah sebagai berikut:
Kingdome       : Plantae
Divisio             : Spermathophyta
Sub Divisio     : Angiospermae
Class                : Monocotyledone
Ordo                : Glumiflorae
Famili              : Graminae
Genus              : Saccharum
Spesies            : Saccharum officinarum L.
Pengembangan tebu rakyat diprioritaskan untuk mendukung swasembada gula 2014. Luas total areal tebu pada 2012 450.297 ha yang terdiri atas tebu rakyat 252.166 ha dan areal tebu swasta 198.131 ha (Muhammad, 2012). Rata-rata produktivitas tebu di Indonesia adalah 76,7 ton/ha (Licht, 2009), dan limbah tanaman berupa pucuk tebu sebesar 30,8 ton/ha. Limbah pucuk tebu tersebut berpotensi sebagai pakan ternak ruminansia. Dengan luas areal pengembangan saat ini, maka akan terdapat 13.869.147,6 ton pucuk tebu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif atau substitusi hijauan untuk ternak sapi (Romli et al., 2012).
Gambar 1.Tanaman Tebu
(Sumber : Romli et al., 2012)
Pucuk tebu merupakan salah satu limbah pertanian yang memegang peranan penting dalam penyediaan pakan (Sitilonga, 1985). Pucuk tebu adalah komponen limbah yang proposinya mencapai 14% dari bobot total tebu yang tersisa setelah panen. Limbah dari industri gula dapat dimanfaatkan dalam banyak hal dan sebagian besar dapat di manfaatkan sebagai pakan ternak (Herawati, 2009).
Pucuk tebu merupakan limbah tanaman yang sangat potensial sebagai pakan ternak karena jumlahnya tersedia banyak dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Satu hehktar kebun tebu akan diperoleh 180 ton biomassa/tahun yang terdiri atas 38 ton pucuk tebu dan 72 ton ampas tebu yang mampu menyediakan pakan ternak sapi sebanyak 17 ekor dengan bobot 250-450 kg. Pucuk tebu yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah ujung atas batang tebu berikut 5-7 helai daun yang dipotong dari tebu yang dipanen untuk tebu bibit atau bibit giling. Bila dilihat dari kandungan nutrisinya, protein kasar pucuk tebu lebih tinggi bila dibandingkan kandungan protein kasar jerami padi maupun jerami jagung, akan tetapi kandungan serat kasarnya adalah yang tertinggi (Sandi dan Arianto, 2012).
Pucuk tebu digunakan sebagai hijauan makanan ternak pengganti rumput gajah tanpa ada pengaruh negatif pada ternak ruminansia. Pucuk tebu meskipun potensinya cukup besar, namun angka pemanfaatnya relatif sangat rendah (3,4%). Hal ini disebabkan  antara lain turunnya palatabilitasnya yang besar apabila dikeringkan dengan matahari, sedangkan yang  diekspor  umumnya dikeringkan dengan matahari atau dikeringkan dengan mesin pengering, sehingga tetap hijau dan bebau manis. Dilihat dari potensi bahan kering, maka pucuk tebu masih mampu menghidupi sebanyak  377.860UT/tahun, sedangkan dengan kandungan PK 5,6 % mampu mensuplai sebanyak 262.662 UT/tahun, dari kandungan TDN 54,1% mampu menghidupi 448.361 UT/tahun (Kuswandi, 2007).
Perbandingan kandungan nutrisi pucuk tebu dan rumput gajah dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Komposisi Zat-zat Makanan Pucuk Tebu Segar dan Rumput Gajah.
Kandungan Nutrisi
(%)
Pucuk Tebu
Rumput Gajah
Bahan Kering
39,45
25,50
Protein Kasar
5,33
6,04
Serat Kasar
35,48
39,25
Lemak
0,90
1,80
BETN
48,60
45,84
Sumber : Musofie et al. (1981).
Berdasarkan Table 1 di atas, dapat dilihat bahwa pucuk tebu memiliki nilai nutrisi yang lebih rendah dibandingkan dengan rumput gajah, khususnya kandungan protein dan serat kasar. Hal ini disebabkan karena umur tanaman yang tua, sehingga kualitasnya menurun. Hal ini sesuai dengan pendapat Afandie dan Nasih (2002) yang menyatakan bahwa kualitas makanan ternak seperti rumput-rumputan dan legum dipengaruhi oleh mudah tidaknya dicerna oleh binatang (digestability). Digestability turun bila kadar serat kasar naik misalnya selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Jika kadar protein turun, kualitas rumputan makanan ternak tersebut akan menjadi rendah. Makin tua umur tanaman, makin rendah kualitasnya. Sebaliknya serat kasar akan makin tinggi (makin jelek).
B.     Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong
Praperlakuan maupun penambahan konsentrat atau hijauan bergizi tinggi dapat menaikkan kecernaan dan konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup, produksi dan kualitas susu. (Wanapat, 2002). Keterbatasan serat pucuk tebu adalah kecernaannya yang rendah dan daya konsumsi oleh ternak tidak sebanyak pada rumput. Musofie (1987) melaporkan bahwa pucuk tebu hanya mampu dikonsumsi oleh sapi sebanyak kurang dari 1% dari bobot hidup (dalam hitungan bahan kering). Oleh karena itu, limbah perkebunan ini perlu diproses dulu sebelum diberikan pada ternak, sedangkan untuk optimasi produksi ternak,  perlu suplementasi zat tertentu, dan suplementasi substrat dari bahan pakan yang akan tersedia di usus halus.
Pucuk tebu dapat diolah melalui proses fermentasi. Terdapat beberapa perbandingan pengaruh perlakuan fermentasi pada pucuk tebu terhadap kadar nutrisinya dapat dilihat pada table berikut :
Table 2. Nilai Nutrisi Pucuk Tebu pada Berbagai Perlakuan.
Parameter
Perlakuan
Pucuk tebu segar
Pucuk tebu difermentasi menggunakan Mikroorganisme (Starbio)
Pucuk tebu difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium
Bahan kering
24,77*
92,77*
90,26**
Protein
5,47*
2,62*
8,20**
Serat
37,90*
30,55*
32,73**
Abu
10,21*
11,02*
13,44**
Sumber :  *Nurhayu et al. (2001)
                           **Prasetyo et al. (2013)
Berdasarkan Table 2 di atas menunjukkan bahwa pucuk tebu segar mengandung serat kasar yang cukup tinggi sehingga daya cerna dan palatabilitasnya rendah. Sedangkan pucuk tebu fermentasi “Mikroorganisme” kandungan Serat Kasar lebih rendah sehingga akan meningkatkan daya cerna dan palatabilitas pakan tersebut. Namun kandungan proteinnya lebih rendah dibandingkan pucuk tebu segar. Menurut Tilman et al. (1989) hal tersebut kurang berarti bagi ternak ruminansia karena kualitas protein suatu bahan makanan banyak dipengaruhi oleh aktivitas mikoorganisme dalam retikulo-rumen. Mikroorganisme dapat mendegradasi semua protein dan asam amino makanan membentuk asam amino baru. Fermentasi protein makanan yang berkualitas rendah dalam rumen dapat meningkatkan kualitas protein karena nilai biologis protein mikroorganisme tinggi.
Perbandingan yang nyata dapat juga dilihat pada pucuk tebu difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium. Kendala penggunaan pucuk tebu untuk pakan adalah sangat rendahnya kecernaan karena kandungan lignoselulosa yang sangat tinggi. Kandungan lignin pada pucuk tebu sebesar 14 % (Alvino, 2012). Menurut Nelson dan Suparjo (2011), efisiensi degradasi lignin yang tinggi dan minimal dalam memanfaatkan polimer selulosa dibanding fungi pelapuk putih lain menjadikan Phanerochaete chrysosporium sebagai pilihan terbaik dalam perlakuan degradasi lignin.
Selain proses fermentasi, pengolahan dalam pemanfaatan pucuk tebu dapat juga berupa perlakuan fisik lainnya. Perlakuan fisik dapat berupa pencacahan, pembentukan pelet (setelah digiling) atau pembuatan hay. Rendahnya kecernaan pucuk tebu di Indonesia dapat diatasi dengan amoniasi. Dengan N-amonia 6% dari berat bahan kering pucuk tebu, hanya diperlukan waktu 2 minggu untuk menaikkan kandungan asam lemak hasil fermentasi (Pangestu et al., 1992). Selain itu, alkali seperti NaOH, Ca (OH)2 dan KOH perlu dipertimbangkan sebagai bahan aktif yang memisahkan ikatan selulosa dan hemiselulosa dari ikatan lignin. Pucuk tebu yang direaksikan dengan NaOH (4%) menaikkan konsumsi dan kecernaan bahan kering, tapi untuk penggunaannya masih harus ditambah bahan pakan sumber protein dan pati yang lolos dari pencernaan di rumen, seperti katul (Kuswandi, 2007).
Hijauan yang terdapat di daearah tropis umumnya berkualitas rendah. Ternak ruminansia yang hanya diberi hijauan saja, tidak akan dapat diharapkan produksi maupun efisiensi reproduksi yang tinggi. Manfaat hasil sampingan pertanian dan agro-industri sebagai pakan ternak, sangat tergantung dari ketersediaan bahan, kemampuan ekonomi petani–ternak, dan efisiensi penggunaan bahan pakan tersebut. Ternak ruminansia mampu menggunakan zat-zat makanan di dalam pakan, seperti karbohidrat, protein, nitrogen bukan protein dan lemak secara efisien. Dalam penggunaan ransum diperlukan pencampuran berbagai bahan pakan dalam jumlah tertentu, disamping menyediakan zat makanan yang secara langsung dapat diserap dari berbagai alat pencernaan pasca rumen. Penambahan konsentrat dalam ransum ternak ruminansia dapat meningkatkan konsentrasi produk akhir fermentasi rumen yang akan meningkatkan pertambahan bobot badan (Nurhayu, 2010).
Kebutuhan akan konsentrat dalam ransum ternak dipertimbangkan dari kondisi hijauan yang dimiliki. Kualitas hijauan yang rendah membutuhkan konsentrat dengan kualitas yang tinggi. Sedangkan kualitas hijauan yang tinggi dapat dikombinasikan dengan konsentrat dengan kualitas yang rendah. Hal ini ditujukan agar kebutuhan akan sumber pakan pokok ini bisa saling melengkapi sehingga dapat diperoleh efisiensi produksi yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Chuzaemi (2002) bahwa ransum komplit merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian yaitu dengan cara mencampurkan limbah pertanian dengan tambahan pakan (konsentrat) dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak baik kebutuhan serat maupun zat makanan lainnya. Musofie et al. (1982) menambahkan bahwa penambahan konsentrat atau tanaman leguminosa dapat meningkatkan nilai pakan pucuk tebu.
C.          Pengaruh Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Pakan Sapi Potong Terhadap Produksi Sapi Bali.
Produktivitas ternak ditentukan oleh dua aspek yaitu penampilan produksi dan penampilan reproduksi. Produktivitas biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Produksi ternak sapi potong berhubungan erat dengan performansnya. Performans ternak dapat dilihat dari bobot badan, ukuran tubuh, komposisi tubuh, dan kondisi tubuh. Bobot badan ternak dapat diketahui dengan melakukan penimbangan atau menggunakan alat penduga bobot hidup untuk menggambarkan penampilan produksi seekor ternak. Beberapa ukuran tubuh dapat dijadikan sebagai indikator bobot hidup seperti lingkar dada panjang badan, dan tinggi gumba (Hardjosubroto, 1994).
Banyak laporan yang telah mengemukakan hasil penelitian mengenai kemampuan produksi sapi Bali. Kemampuan produksi sapi Bali dapat dilihat dari beberapa indikator sifat-sifat produksi seperti bobot lahir, bobot sapih, bobot dewasa, laju pertambahan bobot badan, sifat-sifat karkas (persentase karkas dan kualitas karkas), dan sebagainya, maupun sifat reproduksi seperti dewasa kelamin, umur pubertas, jarak beranak (calving interval), persentase beranak, dan sebagainya. Beberapa sifat produksi dan reproduksi tersebut merupakan sifat penting/ekonomis yang dapat dipergunakan sebagai indikator seleksi (Handiwirawan dan Subandriyo, 2014).
Pucuk tebu dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi dan kerbau. Pemberian pucuk tebu yang ditambah urea dan 1 kg  katul/hari memberikan PBBH yang cukup tinggi, tetapi konsumsi pakan meningkat, sehingga efisiensinya sedikit berkurang. Dalam hal ini banyaknya urea yang ditambahkan tidak disebutkan. Sementara itu, Soemarmi et al. (1985) melaporkan perbandingan laju PBB sapi Bali mencapai 690 g/ekor/hari yang diberi pakan rumput, dan 820 g/ekor/hari yang diberi pakan pucuk tebu ditambah konsentrat 1%.
Adapun perbandingan produktivitas sapi bali yang diberi pakan rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan pucuk tebu sebagai hijauan pakan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3. Perbandingan Produktivitas Sapi Bali yang Diberi Pakan Hijauan Berupa Rumput Gajah dan Pucuk Tebu.
Parameter
Rumput Gajah
Pucuk Tebu
B.B awal (kg)
122 a)
156.5 b)
B.B akhir (kg)
159,08 a)
249.7 b)
Tambahan berat badan (kg)
37,08
93,2
Persentase tambahan berat badan (%)
30,98
59,56
Perambahan berat badan harian (kg/ekor/hari)
0,320 a)
0,776 b)
Konsumsi pakan total (kg DM)
375,20 a)
656.23 b)
Lama Pemeliharaan
112 hari a)
120 hari b)
Feed Convertion Rasio (FCR)
10,60 a)
7.04 b)
            Sumber : a) Mastika et al. (1997)
                           b) Entwistle dan Lindsay (2003)
Berdasarkan pada Tabel 3 secara jelas menunjukkan bahwa pucuk tebu dapat memberi pengaruh yang lebih baik terhadap produksi sapi bali jika dibandingkan rumput gajah dengan melihat persentase pertambahan berat badannya. Pucuk tebu mampu memberikan tambahan berat badan 59,56 %, sedangkan rumput gajah hanya 37,08 %.  Angka yang berbeda tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas ransum yang diberikan, kondisi dan umur awal ternak yang diteliti, serta perbedaan perlakuan pemeliharaan. Daniel et al. (2006) menyatakan bahwa peranan pakan dalam usaha ternak sapi potong sangat penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan merupakan kunci keberhasilan produksi ternak. Jenis pakan ternak yang terpenting adalah hijauan dan konsentrat karena merupakan pakan utama ternak ruminansia.
Penambahan konsentrat dalam ransum ternak merupakan suatu usaha untuk mencukupi kebutuhan zat-zat makanan. Pada penggemukan di Indonesia biasanya dengan dry lot fattening dan kereman. Salah satu faktor yang berpengaruh di dalamnya adalah pemberian pakan, khususnya ransum dan konsentrat. Pencernaannya sangat melibatkan pada unsur N yaitu dalam protein dan C dalam karbohidrat. Semakin tinggi tingkat pemberian konsentrat maka daya cerna bahan kering juga meningkat, karena konsentrat mampu merangsang pertumbuhan mikroba rumen sehingga aktivitas pencernaan fermentatif lebih meningkat, yang pada gilirannya makin banyak bahan kering ransum yang dapat dicerna, dengan kata lain konsentrat mempunyai nilai kecernaan yang tinggi dalam saluran ternak ruminansia (Koddang, 2008).
Pemberian konsentrat akan dapat meningkatkan jumlah konsumsi protein kasar. Pada batas-batas tertentu peningkatan jumlah konsumsi protein dapat meningkatkan daya cerna, sehingga produktivitas sapi potong pun meningkat. Tapi apabila konsumsi protein telah melebihi batas optimal maka penambahan konsumsi protein justru akan menurunkan daya cernanya, bahkan dapat menurunkan daya cerna zat-zat makanan lainnya (Koddang, 2008).
Saat hijauan sulit ditemukan, maka konsentrat adalah pilihan selanjutnya sebagai pakan. Konsentrat yang ada di pasaran terlalu mahal untuk dibeli, sehingga sebagian peternak memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan konsentrat buatan. Upaya mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dilakukan dengan berbagai cara, seperti perebusan pada dedak padi, gaplek, onggok, maupun dengan pencincangan pada jerami jagung dan pucuk tebu. Perlakuan fisik dengan penggilingan menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil, berakibat meningkatkan bahan terkonsumsi (Soeharsono et al., 2005).
Kondisi kesehetan ternak juga dapat mempengaruhi produksi. Sapi yang akan berproduksi baik memiliki kondisi kesehatan yang baik. Untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum, peternak bisa memperhatikan kondisi tubuh (tubuh bulat berisi, tidak ada eksternal parasit); sikap dan tingkah laku (tegap, keempat kaki memperoleh titik berat sama); pernafasan (bernafas dengan tenang dan teratur); pencernaan (dapat memamahbiak dengan tenang, pembuangan feses dan urine berjalan lancar) dan pandangan sapi (mata cerah dan tajam). Kondisi kesehatan yang baik dari sapi potong dapat memberikan produksi yang baik pula bagi sapi potong tersebut (Romjali, 2007).


PENUTUP
Kesimpulan
Pucuk tebu sebagai limbah industri pangan dapat dimanfaatkan untuk menggantikan fungsi rumput sebagai hijauan pakan ternak untuk peningkatan produksi dan produktivitas sapi potong.
Saran
Pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan sapi potong diperlukan untuk peningkatan produksi dan produktivitas sapi potong.




DAFTAR PUSTAKA

Afandie, R. dan Nasih W. Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.
Alvino, H. 2012. Pabrik Bioethanol dari Ampas Tebu (Bagasse) dengan Proses Hidrolisis Enzimatis dan Co-Fermentasi. Laporan Penelitian. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.
Chuzaemi, S. 2002. Arah dan sasaran penelitian nutrisi sapi potong di Indonesia. Makalah dan Workshop Sapi Potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan dan Lokakarya Penelitian Sapi Potong, Grati, Malang. 11-12 April 2002.
Entwistle, K. dan D.R. Lindsay. 2003. Feeding Strategies to Improve the Production Performance and Meat Quality of Bali Cattle (Bos sondaicus) dalam Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. Proceedings of a Workshop 4–7 Februrary 2002, Bali, Indonesia
Fadillah. 2008. Biodelignifikasi Batang Jagung dengan Jamur Pelapuk Putih Phanerochaete chrysosporium. Ekuilibrium 7 (1) : 7-11. 
Ferreiro H.M. dan Preston TR. 1976. Fattening cattle with sugarcane: The effect of different proportions of stalk and tops. Trop. Anim. Prod. 1:178-185.
Handiwirawan, Eko dan Subandriyo. 2004. Potensi dan Keragaman Sumberdaya Genetik Sapi Bali. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Herawati, L. 2009. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
Koddang, Muh Yusuf. 2008. Pengaruh Tingkat Pemberian Konsentrat Terhadap  Daya Cerna Bahan Kering dan Protein Kasar Ransum Pada Sapi Bali Jantan Yang Mendapatkan Rumput Raja (Pennisetum purpuroides) Ad-libitum. Palu: Universitas tadukalo.
Kuswandi, 2007. Balai Penelitian Ternak.Teknologi Pakan untuk Limbah Tebu (Fraksi Serat) sebagai Pakan Ternak Ruminansia. Bogor.
Licht ,F.O. 2009. World Sugar Statistics 2010. Kent, UK: Agra Informa Limited.
Mastika, I.M., Oka, I.G.L., Sarini, N.P., Suriasih, N.K., Ambarwati, I.G.A., Wijaya, A.S. 1997. Study on Growth and Reproductive Performance of Bali Cattle Fed Concentrate in Feed Lot System. Report submitted to the IAEUP, Jakarta.
Muhammad, D. 2012. Manisnya Pembangunan Pabrik Gula Hingga 'Disemuti' 20 Pengusaha. Republika On Line, Jumat, 27 Juli 2012, 20:23 WIB. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/07/27/m7tmz-manisnya-pembangunan-pabrik-gula-hingga-disemuti-20-pengusa ha). Diakses pada 12 September 2012.
Musofie, A., N.K Wardhani dan S. Tedjowahjono. 1981. Penggunaan Pucuk Tebu pada Sapi Bali Jantan Muda. Proc, Seminar Penelitian Peternakan, Puslitbangnak, Bogor.
Musofie, A., N.K. Wardhani dan S. Tedjowahjono. 1982. Pemanfaatan Pucuk Tebu sebagai Sumber Hijauan Makanan Ternak. Majalah Perusahaan Gula Pasuruan XVIII (1-2-3).
Musofie, A. 1987. Potential and utilization of sugarcane residues as animal feed in Indonesia. A review. Pros. Limbah Pertanian sebagai Pakan dan Manfaat Lainnya. Grati, 16 – 17 Nopember 1987. Sub Balai Penelitian Ternak, Grati. hlm. 200 – 215.
Nelson dan Supardjo. 2011. Penentuan Lama Fermentasi Kulit Buah Kakao dengan Phanerochaete chrysosporium: Evaluasi Kualitas Nutrisi Secara Kimiawi. Aginak. 01 (1) : 1–10.
Nurhayu, A., Matheus Sariubang dan Andi Ella. 2001. Pemanfaatan Pucuk Tebu Sebagai Pakan Sapi Potong. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, Gowa
Nurhayu. 2010. Kajian Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Mendukung Swasembada Daging Di Sulawesi Selatan. Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Departemen Pertanian Sulawesi Selatan.
Pangestu, E., D. Rahmadi, Widiyanto dan Surahmanto. 1992. Kajian mengenai fermentasi pucuk tebu terhadap utilitasnya sebagai pakan. Bull. Peternakan. Edisi Khusus. hlm. 210 – 217.
Prasetyo, D., Fm Suhartati dan Wardhana Suryapratama. 2013. Imbangan Pucuk Tebu dan Ampas Tebu yang Difermentasi Menggunakan Phanerochaete Chrysosporium Pengaruhnya Terhadap Produk Fermentasi Rumen. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Romjali, Endang. 2007. Rakitan Teknologi Pembibitan Sapi Potong. Makalah disajikan dalam Workshop Loka Penelitian Sapi Potong di Grati–Pasuruan, Banyuwangi
Romli, Moch., Teger Basuki, Joko Hartono, Sudjindro, dan Nurindah. 2012. Laporan Akhir Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa Sistem Pertanian Terpadu Tebu-Ternak Mendukung Swasembada Gula dan Daging. Kementerian Riset Dan Teknologi. Kementerian Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.
Sandi, S.M., dan M. Arianto. 2012. Kualitas Nutrisi Silase Pucuk Tebu (Saccharum officinarum) dengan Penambahan Inokulan Effective Mikroorganisme-4 (EM-4).
Sitilonga, A. 1985.Pemanfaatan Daun Tebu untuk Pakan Ternak di Jawa Timur dalam Prosedding Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu untuk PakanTernak Bogor. BPPP Deptan, P:6-13.
Soeharsono, Supriadi, dan Hanafi, H. 2005. Pengaruh Pemberian Pakan Konsentrat yang disusun dari Limbah Pertanian Terhadap Produktivitas Ternak Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian: Yogyakarta.
Soemarmi, A., Musofie dan N. K. Wardhani. 1985. Pengaruh Pemberian Wafer Pucuk Tebu terhadap Pertambahan Berat Badan Sapi Bali Jantan. Proceeding Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu untuk Pakan Ternak. Grati, 5 Maret 1985. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Srebotnik E., K.A. Jensen and K.E. Hammel. 1994. Fungal degadation of recalcitrant nonphenolic lignin structure without lignin peroxidase. Proc Natl Acad Sci. 91:12794-12797.
Suryana, A. 2000. Harapan dan tantangan bagi sub sektor peternakan dalam meningkatkan krtahanan pangan nasional. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Bogor.
Tarigan, B. Y. dan J. N. Sinulingga, 2006. Laporan Praktek Kerja Lapangan di Pabrik Gula Sei Semayang PTPN II Sumatera Utara. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Tjokroadikoesoemo, P. S. dan A. S. Baktir. 2005. Ekstraksi Nira Tebu. Yayasan Pembangunan Indonesia Sekolah Tinggi Teknologi Industri, Surabaya.
Wanapat, M. 2002. On-Farm Crop-Residues As Ruminant Feeds: New Dimensions And Outlook. Proc. 7th World Buffalo Congress. International Buffalo Federation. Makati, Philippines, 20 – 23 Oct. 2002. Pp. 238 –249.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar