Makalah
Usulan Penelitian
KANDUNGAN
PROTEIN DAN KLOROFIL DAUN
RUMPUT
Brachiaria brizantha YANG DIBERI
PUPUK HIJAU CAIR
YANG
BERBEDA
Oleh
:
Ian Roni Rezky Raja Rio M. Sigalingging
I11111336

PROGRAM STUDI
PETERNAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Peningkatan produktivitas ternak ruminansia di Indonesia
dapat dicapai melalui perbaikan penyedian hijauan pakan, baik dari segi
kuantitas maupun dari segi kualitas secara berkesinambungan. Hijauan berupa
rumput merupakan sumber pakan utama bagi ternak ruminansia, karena mengandung
zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh
ternak.
Hijauan makanan ternak
di daerah tropis umumnya mempunyai kualitas yang relatif lebih rendah bila
dibandingkan dengan hijauan sub-tropis. Hal ini ditandai dengan tingginya
kandungan serat kasar akibat intensitas penyinaran matahari dan temperatur yang
tinggi. Pertumbuhan hijauan pakan di daerah tropis sering mengalami kekurangan
unsur hara tertentu, walaupun di masing-masing daerah relatif berbeda. Lebih
lanjut Hermawan (2013) menjelaskan bahwa jika unsur hara
esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan, metabolisme tanaman akan terganggu
yang secara visual dapat dilihat dari penyimpangan-penyimpangan pertumbuhannya.
Gejala tersebut dapat berbeda tergantung
spesies hijauan. Bisa terjadi tanaman dapat mengalami kekurangan dua unsur atau
lebih pada saat bersamaan. Dengan demikian, Petani peternak tentunya dapat menentukan
pupuk apa yang tepat diberikan terhadap gejala kekurangan unsur hara bagi
tanaman sehingga dapat tumbuh normal kembali.
Pupuk Nitrogen
merupakan pupuk yang sangat penting bagi semua tanaman, karena Nitrogen
merupakan penyusun dari semua senyawa protein (Lindawati dkk., 2000) dan
bagian dari molekul klorofil yang mengendalikan kemampuan tanaman dalam
melakukan fotosintesis (Mas’ud, 1993). Kecukupan nitrogen akan memberi
pembentukkan cadangan makanan yang cukup untuk pertumbuhan tanaman yang optimal.
Korofil
berkorelasi positif dengan kadar N daun (Argenta et al., 2004).
Pengukuran klorofil dapat dilakukan dengan menggunakan klorofil meter dengan SPAD
(Soil Plant Analisis Development) (Argenta et al., 2004). Skala kritis SPAD beberapa tanaman pada musim
kemarau adalah 35, yang berarti kandungan hara N pada daun sama dengan 2,90%.
Pemberian pupuk N berdasarkan status klorofil daun dengan menggunakan SPAD
meter dapat menghemat pupuk urea 30– 40% (Wahid, 2003).
Rumput
Brachiaria brizantha merupakan jenis
rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan nilai gizi yang cukup tinggi serta
disukai ternak ruminansia. Nilai gizi rumput ini dipengaruhi oleh tatalaksana
pemeliharaan, antara lain umur pada saat pemotongan, unsur hara, terutama unsur
hara makro seperti unsur nitrogen, di mana unsur nitrogen merupakan salah satu unsur yang
sering kurang jumlahnya dalam tanah (Rukmana, 2005). Untuk mengatasi kekurangan
ini maka perlu melakukan pemupukan. Unsur hara makro, terutama
N, P, K dan Ca mungkin banyak ditemukan dalam pupuk hijau cair daun gamal
(Gliricidia maculata), jonga-jonga (Cromolaena odorata) dan eceng gondok (Eichhornia
crassipes). Untuk mengetahui kandungan
protein dan klorofil suatu hijauan maka dilakukan metode pemberian pupuk
hijau cair daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok terhadap rumput Brachiaria brizantha.
1.2
Perumusan Masalah
Potensi
pemanfaatan hijauan pakan yang sangat baik melalui pemupukan, namun sulit
menentukan jenis pupuk yang cocok digunakan. Pemanfaatan pupuk hijau cair
jarang digunakan oleh petani peternak dan belum banyak diketahui respon
pemupukan pupuk hijau cair daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok terhadap kandungan
protein dan klorofil daun rumput Brachiaria
brizantha.
1.3
Hipotesis
Pemberian
pupuk hijau cair dari daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok pada rumput Brachiaria brizantha diduga dapat meningkatkan
kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria
brizantha.
1.4
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk hijau cair dari bahan daun
gamal, daun jonga-jonga dan eceng gondok terhadap kandungan protein dan
klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
Kegunaan dari
penelitian ini adalah sebagai bahan informasi di lingkungan masyarakat tentang pemanfaat
pupuk cair daun gamal, daun jonga-jonga dan eceng gondok dalam peningkatan
produksi dan kualitas hijauan pakan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Gambaran
Umum Rumput Brachiaria brizantha
Rumput Brachiaria brizantha berasal dari Afrika, rumput ini memiliki karakteristik
tumbuh tegak, pangkal batang banyak bercabang, tinggi hamparan kurang lebih
satu meter dan pangkal daun berbulu lebat (Rukmana, 2005). Proses penanaman
rumput ini menggunakan pols, hidup di tanah struktur ringan, sedang sampai
berat. Pada proses penanaman rumput Brachiaria
brizantha, juga harus memperhatikan faktor
lingkungan antara lain adalah ketersediaan nutrien yang berdampak langsung pada
pertumbuhan produksi dan persistensi tanaman (Sumarsono, 2007).
Berikut ini klasifikasi
dari rumput Brachiaria brizantha menurut Manullang (2012) :
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Magnoliophyta
Kelas :
Liliopsida
Ordo :
Poales
Famili :
Poaceae
Genus :
Brachiaria
Spesies : Brachiaria brizantha
Menurut Reksohadiprodjo
(1985), rumput ini dapat tumbuh pada curah hujan 1000 mm/tahun dengan toleransi
pH tanah cukup luas mulai dari 6-7. Rumput ini juga tahan terhadap kekeringan
selama 6 bulan, cuaca dingin dan penggembalaan. Rumput Brachiaria brizantha
dapat dikembangkan dengan stek, pols atau pun biji (Lubis, 1963). Rumput ini
dapat diperbanyak dengan pols dengan jarak tanam 40 x 40 cm dengan baris-baris
berjarak 60-150 cm (Reskohadiprodjo, 1983). Menurut Rismunandar (1986), perbanyakan
rumput Brachiaria brizantha dengan mengggunakan stek jarang
dilakukan karena pertumbuhannya tidak optimal. Rumput ini membentuk rizoma yang
pendek-pendek dan akarnya dapat menembus ke dalam tanah 30 cm.
Tumbuhnya rumput Brachiaria
brizantha semi tegak sampai tegak (prostate/semierect-erect),
merupakan rumput yang berumur panjang, tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi
hamparan dapat mencapai 30 – 45 cm dan tangkai yang sedang berbunga dapat
mencapi tinggi 1m atau tanaman yang tumbuh creeping parennial (Humpreys,
1974). Memiliki rhizoma yang pendek dan tinggi batang sekitar 30-200 cm. Bentuk
daun linear biasanya berukuran 10-100 cm x 3-20 mm, berambut atau berbulu dan
berwarna hijau gelap. Infloresence (bunga) terdiri dari 2-16 tandan (racemes)
dengan panjang 4-20 cm, spikelet dalam satu baris; luas rachis 1
mm, berwarna ungu, spikelet berbentuk elips panjang 4-6 mm, berbulu atau
berbulu pada ujungnya, panjang glume sepertiga dari panjang spikelet
(Schultze-Kraft, 1992).
Pemotongan hijauan dapat dilakukan setelah tanaman mencapai 50 – 100 cm atau tanaman
telah berumur 60 sampai 90 hari,
dengan menyisakan batang setinggi 10 sampai 15 cm di atas permukaan
tanah (Rismunandar, 1986). Pemotongan pertama rumput Brachiaria
brizantha dapat dilakukan pada umur
60 hari musim hujan dan umur 70 hari musim kemarau, sedangkan untuk
pemotongan selanjutnya dapat
dilakukan pada umur 40 hari
musim hujan atau 60 hari musim kemarau. Reksohadiprodjo (1985)
menyatakan bahwa rumput Brachiaria
brizantha yang dipotong tiap 4 minggu akan menghasilkan serat
kasar 18,45 % dan protein kasar 10 % lebih tinggi dari
umur pemotongan lainnya.
2.2
Produksi Rumput Brachiaria brizantha
Makanan ternak berupa
hijauan merupakan bahan makanan pokok bagi ternak besar maupun ternak kecil di
Indonesia dan terdiri dari hijaun sebangsa rumput, leguminosa, dan hijauan
lainnya. Salah satu jenis hijauan makanan ternak yang baik diberikan pada
ternak ruminansia adalah rumput Brachiaria brizantha,
karena mampu untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak dan
tanaman ini mudah tumbuh serta proses adaptasinya sangat baik (Suharno dan
Nazaruddin, 1994).
Rumput Brachiaria
brizantha merupakan tanaman yang cukup baik untuk kebutuhan
ternak, baik dilihat
produktivitasnya maupun nutrisi yang terkandung di dalamnya. Dengan memanen
pada pertumbuhan yang cocok atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan
menghasilkan pakan yang bernilai tinggi. Produksi bahan segar rumput Brachiaria
brizantha dapat mencapai 270.000 kg/ha/tahun di daerah basah
dengan irigasi yang baik dan penggembalaan ternak harus dilakukan secara
rotasi. Rumput Brachiaria brizantha
yang dipotong pada tiap 28 hari dapat menghasilkan bahan kering 9,6 ton/ha
dengan kandungan protein kasar 11%, sedangkan yang dipotong pada umur 56 hari
menghasilkan bahan kering 9,04 ton/ha dengan kandungan protein kasar 6,4% (Reksohadiprodjo,
1985).
Siregar (1996)
menyatakan produksi rumput ini
pada lahan kering yaitu 40 ton/ha/tahun dengan kandungan protein kasar 13,5%,
lemak 3,4%, NDF 64,2%, abu 15,8%, kalsium 0,31% dan fosfor
0,37%. Lebih lanjut lagi disarankan agar sebelum diberikan kepada ternak,
sebaiknya rumput ini dipotong-potong lebih dahulu (Lubis, 1963).
Produksi Brachiaria, selain dipengaruhi oleh
pemupukan, juga dipengaruhi oleh tinggi pemotongan. Siregar (1996) melaporkan produksi
Brachiaria pada berbagai tinggi pemotongan adalah 25,10; 82,22; 70,58; 88,38;
94,78 g/rumpun untuk pemotongan 0, 5 cm,
10 cm, 15 cm dan 20 cm dari permukaan tanah. Semakin tinggi tingkat pemotongan
produksi yang dihasilkan semakin tinggi. Sedangkan berbagai interval pemotongan
yaitu 20, 30, 45 dan 60 hari menghasilkan produksi sebanyak 186,42; 190,98;
170,98 dan 195,18 ton/ha/tahun (Siregar dan Djajanegara, 1974).
2.3
Kualitas Rumput Brachiaria brizantha
Rumput Brachiaria
brizantha mempunya produksi bahan kering 40 sampai 63 ton/ha/tahun
dengan rata-rata kandungan gizi-gizi yaitu : protein kasar 9,66%, BETN 41,34%,
serat kasar 30,86%, lemak 2,24%, abu 15,96 dn TDN 51% (Susetyo, 1969).
Pengamatan yag sama
mengenai kualitas rumput Brachiaria brizantha
oleh Lubis (1963) menyatakan bahwa rumput Brachiaria brizantha
mempunyai nilai gizi yang berdasarkan bahan keringnya, yaitu protein kasar 9,72
%, serat kasar 21,54 % BETN 43,56 %, lemak
1,94 %, dan abu 18,43 %.
Sebagai rumput budidaya yang banyak dipergunakan
oleh peternak, Brachiaria memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi pada
rumput Brachiaria. Ginting dan Pond (1996) menganalisa khusus kandungan protein
kasar rumput Brachiaria brizantha
sebesar 10,8 %. Sementara itu Rukmana (2005) melaporkan kandungan protein kasar
Brachiaria 9,9 % dengan pembagian pada morfologi daun atas 5,3 %, daun 2,5 %,
dan batang 2,1 %, sehingga sesuai kandungan protein kasarnya, Brachiaria
tergolongkan ke dalam rumput yang unggul.
Menurut Minson dan Milford (1981) menyatakan bahwa
kadar protein kasar rumput Brachiaria brizantha
di bawah 7-8% akan menyebabkan konsumsi hijauan menurun. Kandungan protein
kasar dan serat kasar pada berbagai taraf pemotongan rumput Brachiaria
dilaporkan oleh Rismunandar (1986) adalah, 13,8% dan 29,69% pada pemotongan 20
hari, 8,86% dan 30,63% pada pemotongan 30 hari, 6,24 dan 33,27 pada pemotongan
45 hari serta 5,90 dan 34,1 pada pemotongan 60 hari. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa protein kasar pada Brachiaria akan cenderung menurun dan serat kasar akan
meningkat sesuai dengan bertambahnya umur potong rumput.
Pada tumbuhan dan hewan tidak hanya pada protoplasma
pada sel hidup terdiri teutama dari protein tetapi juga nukleusnya yang
mengawasi aktivitas setiap sel adalah protein. Pada tumbuh-tumbuhan, sebagian
besar dari protein umumnya terkumpul di bagian reproduksi dan di bagian yang
tumbuh aktif seperti daun (Anggorodi, 1979). Untuk mengetahui kadar protein
dari bahan makanan tersebut perlu ditentukan kadar nitrogennya secara kimiawi.
Kemudian angka tersebut dikalikan dengan faktor 6,25. Faktor tersebut digunakan
karena zat nitrogen mewakili kurang lebih 16 % dari protein (100/6=6,25). Nilai
hayati protein didefinisikan sebagai persentase proein yang diserap dan
kemudian digunakan tubuh (Sambara, 1995).
Di dalam rumen, protein akan diubah menjadi peptide
dan selanjutnya menjadi asam amino untuk mikroba rumen. Protein mikroba rumen
bersama protein makanan yang tidak mengalami degradasi dalam rumen akan menjadi
protein bagi ruminansia yang kemudian dicerna oleh abomasum, sedangkan protein
yang mengalami degradasi akan diubah menjadi asam organik, amoniak dan CO2
(Tillman dkk., 1991).
2.4 Klorofil Daun Rumput Brachiaria brizantha
Klorofil
memiliki fungsi utama dalam fotosintesis yaitu memanfaatkan energi matahari,
memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan menyediakan energi.
Karbohidrat yang dihasilkan dalam fotosintesis diubah menjadi protein, lemak,
asam nukleat dan molekul organik lainnya (Ai dan Banyo, 2011). Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil adalah faktor genetik, cahaya,
oksigen, karbohidrat, air, unsur hara seperti Fe, Mg dan N (Dwidjoseputro, 1980).
Rumput sebagai tanaman pakan sangat membutuhkan nitrogen
untuk mendukung pertumbuhannya karena nitrogen merupakan unsur esensial pada
berbagai senyawa penyusun tanaman termasuk unsur penyusun klorofil. Terdapat
dua macam klorofil yaitu klorofil A (C55H72O5N4Mg)
dan klorofil B (C55H70O6N4Mg).
Klorofil mengumpulkan cahaya serta mentransfer energi ke pusat reaksi pada
proses fotosintesis. Klorofil A berperan secara langsung dalam reaksi
pengubahan energi radiasi menjadi energi kimia serta menyerap dan mengangkut
energi ke pusat reaksi molekul. Sementara itu, klorofil B berfungsi sebagai
penyerap energi radiasi yang selanjutnya diteruskan ke klorofil A. Meningkatnya
klorofil B berdampak positif terhadap efektivitas penyerapan energi radiasi
pada kondisi yang ternaungi (Sirait, 2008).
Pengukuran klorofil daun dapat dilakukan menggunakan klorofil
meter SPAD (Soil Plant Analisis Development) 502 sebagai
salah satu alternatif untuk mengetahui kecukupan hara N pada tanaman. Klorofil
berkorelasi positif dengan kadar N daun (Argenta et al., 2004).
Nitrogen
merupakan unsur hara yang sangat sering membatasi hasil tanaman karena
kekurangan nitrogen akan menghambat fotosintesa serta mengurangi sintesis
protein (Suseno, 1974). Nitrogen merupakan usur hara utama bagi pertumbuhan
tanaman sebab merupakan penyusun dari semua protein dan asma nukleit dan dengan
demikian merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan (Syarief, 1985).
Unsur hara nitrogen berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan, menguatkan hijauan
dan meningkatkan kadar protein (Rismunandar, 1986).
Berikut
ini estimasi kandungan nitrogen daun di akitakomachi, jepang menggunakan
Minolta Chlorofil meter :
Tabel 1. Estimasi Kandungan Nitrogen
Daun Di Akitakomachi, Jepang Menggunakan Minolta Chlorofil Meter
|
Nilai
Klorofil Meter (SPAD)
|
|||||||||||
Skala
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
31
|
32
|
33
|
34
|
35
|
36
|
37
|
%
N
|
1,90
|
2
|
2,10
|
2,20
|
2,30
|
2,40
|
2,50
|
2,60
|
2,70
|
2,80
|
2,90
|
3
|
Sumber : Mutters (1999).
Skala kritis SPAD
beberapa tanaman pada musim kemarau adalah 35, berarti kandungan hara N pada
daun sama dengan 2,90%. Pemberian pupuk N berdasarkan status klorofil daun
dengan menggunakan SPAD meter dapat menghemat pupuk urea 30– 40% (Wahid, 2003),
karena dengan mengatahui status klorofil secara aktual, kita dapat memberi
perlakuan pupuk yang optimal untuk tanaman sesuai kebutuhan.
2.6 Pemupukan
Pupuk adalah suatu
bahan yang diberikan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengganti
unsur-unsur hara yang hilang dari dalam tanah. Tiap – tiap jenis pupuk
mempunyai kandungan unsur hara, kelarutan dan kecepatan kerja yang berbeda
sehingga dosis dan jenis pupuk yang diberikan berbeda untuk tiap jenis tanaman
dan jenis tanah yang digunakan (Hardjowigeno, 1992).
Ada 3 unsur hara utama
dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan, reproduksi, dan produksi, yaitu
nitrogen, fosfat dan kalium. Pemberian pupuk nitrogen merupakan faktor penting
dalam usaha peningkatan produksi dan kekurangan unsur hara tersebut akan
menyebabkan tanaman menjad kerdil atau kecil, warna daun merah dan
kekuning-kuningan (Susetyo, 1969). Penambahan nitrogen kedalam padang rumput
akan meningkatkan produksi bahan kering dan kualitas hijaun makanan ternak
terutama kadar proteinnya (Humperys, 1974).
Tanaman menyerap unsur
hara dalam tanah dalam bentuk kation dan anion, jadi dalam bentuk yang larut
dalam air. Pada umumnya nitrogen diambil oleh tanaman dalam bentuk Amonium (NH4+)
dan Nitrat (NO3-), tapi Nitrat yang terserap segera
terreduksi menjadi ammonium melalui enzim yag mengandung molibdenium. Ion-ion
Amonium dan beberapa karbohidrat mengalami sintesis dalam daun dan diubah
menjadi asam amino yang akan membentuk protein, terutama terjadi dalam daun
hijauan (Syarief, 1985).
Pemberian pupuk
nitrogen pada tanaman mempunyai peranan dalam merangsang pertumbuhan jaringan
tanaman, jumlah anakan (tiller) dan lebar daun. Tapi kelebihan unsur nitrogen
akan memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan vegetatif), batangnya
lemah, mudah rebah dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit (Soepardi,
1983).
Sutedjo (2004)
menyatakan rumput Brachiaria brizantha
apabila telah berumur 2 minggu bisa diberikan pupuk nitrogen berupa urea, 150
kg/ha yang dibenamkan ± 4 cm di setiap sisi deretan tanaman, karena tanaman
pada umur 2 minggu itu akarnya sudah mulai aktif.
Menurut
Heddy (2003) menyatakan bahwa pada tanaman rumput Brachiaria
brizantha yang dipupuk, produksi bahan kering yang dipotong
pada interval 25 hari lebih rendah dari pada kandungan bahan kering pada 50
hari. Produksi bahan kering pada interval 25 hari adalah 15.185,74g/ha/petak, sedangkan pada pemotongan 50 hari
produksi bahan keringnya adalah 28.482,5 rumput Brachiaria
brizantha sebagai hijauan makanan ternak ditentukan oleh
zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya dan kecernaannya (McIlroy, 1977).
2.7
Pupuk Hijau Cair
Untuk menjamin agar memperoleh
produksi hijauan yang kontinu, maka salah satu jalan yang harus ditempuh adalah
memperbaiki keadaan tanah dengan cara pendangiran dan pemupukan
(Reksohadiprodjo, 1985).
Peranan pupuk hijau
cair yaitu meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, daun lebih hijau dan meningkatkan
perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Sutedjo, 1995). Kekurangan dan
kelebihan pupuk hijau cair
akan berdampak terhadap kualitas dan
produktivitas hijauan.
Kekurangan pupuk dapat mengakibatkan pertumbuhan
vegetatif terlambat dalam pemasakan buah dan biji, tanaman lemah dan mudah
rebah dan menambah kepekaan terhadap penyakit. Sedangkan kelebihan dari pupuk
hijau cair yaitu dapat mempercepat pertumbuhan vegetatif terutama daun, pengisian
biji, akar, meningkatkan kandungan protein, merangsang pertunasan dan menambah
tinggi tanaman (Sabihana dkk., 1980).
Yunus
(1987) menyatakan bahwa semakin tua tanaman proporsi batang dengan daun semakin
besar di mana batang akan kurang mengandung protein. Makin besar perbandingan
daun dengan batang, kualitas hijauan semakin tinggi sebab daun kualitasnya
lebih tinggi dari pada batang. Hal ini menjadi pertimbangan dalam pemilihan
jenis tanaman yang akan dijadikan pupuk hijau cair. Suntoro dkk. (2001) menyatakan bahwa suatau
tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau apabila (1) cepat tumbuh (2) bagian
atas banyak dan lunak (succulent); dan (3) kesanggupannya tumbuh cepat
pada tanah yang kurang subur, sehingga cocok dalam rotasi untuk penyediaan
jangka panjangnya.
2.8
Pupuk Hijau Cair Daun Gamal (Gliricidia maculata)
Gamal merupakan jenis
tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber hijauan pakan ternak ruminansia dan
juga sebagai sumber pupuk hijau cair. Gamal berbentuk pohon dengan ukuran
sedang dan dikenal
sebagai tanaman jenis kacang-kacangan (Mathius, 1984). Menurut Sugiri, (1980), gamal
sebagai pupuk hijau cair mempunyai kandungan unsur hara cukup tinggi untuk
pertumbuhan tanaman. Pupuk hijau cair gamal lebih baik dibandingkan dengan daun
lamtoro.
Kandungan nutrisi pupuk cair daun gamal
(Gliricidia maculata) dapat dilihat
pada Tabel 2 berikut :
Komponen
|
Persentase
|
Bahan Kering
|
22,1
|
Protein Kasar
|
23,5
|
Kalsium (Ca)
|
1,35
|
Fosfor (P)
|
0,07
|
Nitrogen (N)
|
3,15
|
Kalium (K)
|
2,12
|
Abu
|
5,7
|
Tabel 2. Kandungan
Nutrisi daun gamal (%)
Sumber
: Havlin dkk.
(2002)
Berdasarkan
tabel di
atas, daun gamal
yang dibuat pupuk cair memiliki potensi yang tinggi, sehingga penggunaan dari
pupuk cair tersebut banyak digunakan pada tanaman pangan diantaranya tanaman
jagung dan sawi. Hasil pemberian pupuk cair daun gamal pada tanaman jagung 3
ton ha -1 / tahun dan tanaman sawi 2-6 ton ha-1. /tahun.
Pupuk cair daun gamal itu diberikan pada tanaman dengan cara disemprotkan atau
disiramkan 2 minggu setelah penanaman tanaman (Sunarjono, 2003).
2.9
Pupuk Hijau Cair Jonga-jonga (Chromolaena odorata)
Chromolaena
odorata menyebar di kepulauan Indonesia sejak Perang Dunia
II. Dengan penyebaran itu kini jonga-jonga dapat dijumpai di semua pulau-pulau
besar di Indonesia (Wilson dan Widayanto, 2004). Gulma ini dapat tumbuh baik
pada berbagai jenis tanah dan tumbuh lebih baik lagi apabila mendapat cahaya
matahari yang cukup (Vanderwoude et al.,
2005). Kondisi yang ideal bagi gulma ini adalah wilayah dengan curah hujan >
1000 mm/tahun. Gulma
ini tumbuh dengan baik di tempat-tempat yang terbuka seperti padang rumput,
tanah terlantar dan pinggir-pinggir jalan yang tidak terawat (Binggeli, 1997).
Soerohaldoko (1971)
melaporkan mengenai kerugian dari Chromolaena
odorata terhadap ternak mengenai keberadaannya di cagar alam Pananjung,
Jawa Barat yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya
berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.
Chromolaena
odorata dapat berkembang dengan cepat dan mampu tumbuh di
lahan yang kurang subur.
Jika dipangkas, maka tiga bulan kemudian akan tumbuh kembali. Gulma ini dapat
diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan produktivitas
tanaman. Kompos jonga-jonga memiliki nilai hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan hara pada pupuk kandang dari kotoran
sapi (Vanderwoude et al., 2005), dengan
komposisi 2.42 % N, 0.26 % P, 50.40 % C, dan 20.82 C/N. Nilai C/N ini
menunjukkan proses dekomposisi yang lebih cepat dibandingkan dengan pupuk
kandang (25-30). Selain itu, daun dan ranting hijaunya dapat dipakai untuk
membuat pupuk cair (Fitri, 2013).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun jonga-jonga (Cromolaena
odorata) dapat dilihat pada Tabel
3 berikut :
Tabel 3. Kandungan
nutrisi dari daun jonga-jonga (%)
Kandungan Nutrisi
|
Persentase
|
Bahan Kering
|
12,4
|
Protein Kasar
|
20-30
|
Kalsium (Ca)
|
0,14
|
Fosfor (P)
|
0,42
|
Nitrogen (N)
|
2,65
|
Energi (Kkal/kg)
|
3.583,5
|
Sumber : Marthen (2007)
Hasil studi Luik (2005) pada
jagung menunjukan bahwa pemberian pupuk organik cair
jonga-jonga 30 ton/ha mampu meningkatkan kandungan NPK
tanah maupun dalam jaringan tanaman dan mampu meningkatkan hasil tanaman jagung
4,83 kg/16 m2 dibandingkan
tanpa pemberian jonga-jonga yaitu 4,09 kg/16m2. Dengan
demikian pemberian jonga-jonga mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam
tanah.
Pemberian
jonga-jonga sebagai pupuk baik dalam bentuk padat maupun cair dapat
meningkatkan hasil produksi tanaman sayur dan buah. Pupuk dalam bentuk cair
lebih baik dari pada dalam bentuk padat, karena unsur hara di dalamnya akan
lebih mudah dan cepat diserap oleh tanaman. Kandungan unsur N dan K jonga-jonga
sangat tinggi, sedangkan
unsur P jonga-jonga tergolong sedang. Hasil penelitian Sutedjo (2004) mengenai
peranan jonga-jonga terhadap sifat fisik tanah menunjukan bahwa tekstur tanah
dipengaruhi secara nyata oleh kandungan nutrien dari
jonga-jonga.
2.10
Pupuk Hijau Cair Eceng gondok (Eichhornia crassipes)
Eceng gondok merupakan gulma yang sangat cepat
berkembang, apabila tidak dikendalikan akan mengakibatkan masalah lingkungan,
selain memberikan dampak negatif, eceng gondok juga memberikan dampak positif
antara lain sebagai bahan baku pupuk organik. Dari hasil analisis kimia bahan
organik eceng gondok mempunyai kandungan yaitu 1,30% N, 0,24 % P dan C/N ratio
12,25 (Yulianti, 2001).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun eceng gondok (Eichhornia
crassipes) dapat dilihat
pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Kandungan
nutrisi dari eceng gondok (%)
Kandungan Nutrisi
|
Persentase
|
Bahan Kering
|
15
|
Protein Kasar
|
12,99
|
Kalsium (Ca)
|
0,14
|
Fosfor (P)
|
0,6
|
Nitrogen (N)
|
2,3
|
Abu
|
4,2
|
Sumber : Suntoro dkk. (2001)
Pemilihan eceng gondok sangat baik digunakan sebagai
pupuk cair. Little (1968) menerangkan
bahwa eceng gondok banyak menimbulkan masalah pencemaran sungai dan waduk,
tetapi mempunyai manfaat salah satu diantaranya adalah sebagai bahan penutup
tanah (mulsa) dan kompos dalam kegiatan pertanian perkebunan. Pupuk eceng gondok kaya asam humat.
Itu lantaran eceng gondok kaya serat lignin dan selulosa. Hasil penguraian
keduanya menghasilkan asam humat. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang
mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman sehingga tanaman lebih optimal
menyerap hara dan produktivitas pun meningkat.
Yulianti (2001)
melaporkan bahwa efek pemberian pupuk eceng gondok dengan berbagai dosis yaitu
10 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha pada tanaman padi menunjukkan semakin banyak
pemberian pupuk organik cair eceng gondok, makin tinggi produktivitas padi.
Produksi tertinggi diperoleh setelah menambahkan 30 ton pupuk/ha. Hasil panen
mencapai 6,8 ton/ha, lebih tinggi daripada rata-rata produksi padi nasional
sekitar 3–4 ton/ha. Maka eceng gondok merupakan pupuk yang baik, bukan sebagai
gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
akan ini dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu mulai tanggal 1 Januari sampai 27 Februari 2015 untuk proses pemeliharaan di Lahan
Pastura Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, dilanjutkan tanggal 27
Februari sampai 2 Maret 2015 untuk perhitungan bahan kering, dan kemudian
tanggal 2 Maret sampai 5 Maret 2015 untuk pengujian kandungan protein di
Laboratorium Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin,
Makassar.
3.2
Materi Penelitian
Alat-alat yang
digunakan pada penelitian ini adalah cangkul, parang, ayakan tanah, meteran,
gunting rumput, ember, selang plastik, gelas ukur, saringan teh, timbangan, pot
dengan ukuran diameter atas 22 cm x
diameter bawah 18 cm x tinggi 26
cm,
klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502, dan seperangkat alat pengujian
protein metode Kjeldahl.
Bahan-bahan yang
digunakan adalah air, pupuk hijau cair berasal dari daun gamal, jonga-jonga,
eceng gondok, EM4, tanah dan anakan rumput Brachiaria
brizantha, serta bahan-bahan dalam pengujian kandungan protein metode
Kjeldahl.
3.3
Metode Penelitian
a.
Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan
acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan (Gaspersz, 1991).
Perlakuan pemupukan yaitu :
P0 = Rumput Brachiaria brizantha tanpa pupuk cair
(kontrol)
P1 = Rumput
Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair daun gamal 70 ml/Pot
P2 = Rumput
Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair daun jonga-jonga 84 ml/Pot
P3 = Rumput
Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair daun eceng gondok 95 ml/Pot
Model matematikanya adalah sebagai
berikut :
Yij
= µ + Ni
+ ∑ijk
Di mana :
Yij =
Hasil pengamatan dari perlakuan ke- i dan kelompok ke – j
µ
= Rata-rata pengamatan
Ni
= Pengaruh pemberian pupuk ke – I
∑ijk = Kesalahan eksprimen
atau penelitian
b.
Pelaksanaan Penelitian
1.
Pembuatan
Pupuk Hijau cair
Pupuk
yang digunakan berasal dari daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok. Mula –
mula daun ini dipetik, kemudian dipisahkan dari batangnya. Masing-masing bahan (daun gamal, jonga-jonga dan eceng
gondok) dimasukan kedalam ember. Setiap perlakuan berisi 10 kg daun segar yang
telah dicincang menggunakan parang. Daun segar yang telah dicincang kemudian
dimasukkan kedalam ember, kemudian diisi
air
yang telah dihomogenkan dengan EM4 5 % dari total bahan yang akan digunakan. Perbandingan antara berat daun segar yang telah
dicincang dengan air adalah 2 kg daun segar dan
1 liter air. Ember
dikondisikan selalu tertutup, agar
tidak ada unsur hara yang hilang akibat penguapan.
Bagian atas tutup ember diberi lubang khusus untuk selang kecil, ujung selang
dimasukkan kedalam botol yang telah berisi air guna untuk membuang gas yang
berlebihan didalam ember. Hasilnya
disaring dari dalam ember setelah 7-14 hari setelah isi
ember itu tidak berbau dan
kelihatan menyusut. Larutan dalam ember itulah yang
disebut dengan pupuk cair dan siap untuk digunakan pada tanaman
(Jusuf, 2006 ).
2. Penanaman
Tanah yang digunakan
diperoleh dari Lahan Pastura Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Mula-mula
tanah tersebut dihancurkan, kemudian dibersihkan dan diayak untuk mengeluarkan
batu, sisa-sisa tanaman dan materil-materil lainnya, lalu dihomogenkan. Tanah
yang digunakan pada penelitian ini bertekstur
lempung liat berpasir (Tanah Litosol) dengan
pH 6,28 dan kandungan N 0,18%. Tanah yang telah diisi dalam pot ukuran 22 x 18 x 26 cm ditanami anakan rumput Brachiaria
brizantha dengan tinggi anakan 25 cm sebanyak 1 anakan setiap
pot. Jarak antara pot yang satu dengan pot yang lain kurang lebih 40 cm.
Setelah penanaman, dilakukan penyiraman setiap hari dengan jumlah air yang
diberikan sama pada setiap pot menggunakan gelas ukur dan dibiarkan tumbuh
selama 2 minggu. Setelah tumbuh, baru penerapan perlakuan mulai dilakukan
dengan memberi pupuk cair dari daun gamal 70 ml/ pot, jonga-jonga 84 ml/ pot
dan eceng gondok 95 ml/ pot. Pupuk cair disiramkan merata di sekitar tanaman.
Disamping itu dilakukan pembersihan gulma untuk menghindari persaingan tanaman
dalam penyerapan unsur hara.
Denah penempatan perlakuan
dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Table 5. Denah Penempatan Perlakuan
Penelitian
PERLAKUAN
|
|||
P33
|
P23
|
P02
|
P14
|
P04
|
P12
|
P31
|
P21
|
P22
|
P34
|
P13
|
P03
|
P11
|
P01
|
P24
|
P32
|
Keterangan
: P0 : Rumput Brachiaria brizantha tanpa diberi
pupuk cair
(Kontrol).
P1 : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair
daun
Gamal.
P2 : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair
daun
Jonga-jonga
P3 : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau
cair
Eceng
Gondok.
Pemotongan
rumput Brachiaria brizantha dilakukan yaitu pada umur 60 hari.
Pengukuran tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun dan luas daun dilakukan
sebelum pemotongan tanaman. Pemotongan rumput ini sekitar 10 cm dari pangkal batang
tanaman atau permukaan tanah, bagian yang sudah dipotong dimasukkan kedalam
kantong lalu ditimbang untuk mengetahui berat segarnya. Bagian yang sudah
timbang berat segarnya dimasukkan kedalam oven dengan suhu 70 0 C
selama 24 jam untuk mengetahui berat kering. Setelah itu baru timbang berat
akarnya.
3.
Parameter
yang diamati
Parameter
yang diamati pada penelitian ini yaitu kandungan klorofil daun rumput Brachiaria
brizantha yang diamati menggunakan
alat klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502 (Phabiola dan Khamdan, 2012),
dan kandungan protein rumput Brachiaria brizantha dengan metode Kjeldahl (Sudarmaji dkk., 1989).
4.
Analisis
Statistik
Data yang diperoleh
diolah secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang
terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan (Gasperzs, 1991) yang selanjutnya
akan dilanjutkan uji BNT menggunakan SPSS untuk perlakuan yang berpengaruh
nyata.
DAFTAR
PUSTAKA
Ai,
N. S. dan Y. Banyo. 2011. Konsentrasi klorofil daun sebagai indikator
kekurangan air pada tanaman. Jurnal Ilmiah Sains. 11:166-171.
Anggorodi,
R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.
Argenta, G., P. R.
F. Silva, dan L. Sangoi. 2004. Leaf relative chlorophyll content as an
indicator parameter to predict nitrogen fertilization in maize. Ciência Rural.
Santa Maria. Journal Vol.34, n.5, p.1379-1387.
Binggeli,
P. 1997. Chromolaena Odorata. Woody
Plant Ecology. Ecology/docs/web-sp4.htm (diakses 20 November 2014).
Crampton,
E. W. dan L.E. Haris 1969. Applied
Animal Nutrition 2nd ed
W.N Freeman and New York.
Dwidjoseputro,
D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ke-2, PT. Gramedia, Jakarta.
Fitri,
Y. A. 2013. Kirinyuh (Chromolaena odorata), Gulma dengan
banyak potensi manfaat. http://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita-226-kirinyuh-chromolaena-odorata-gulma-dengan-banyak-potensi-manfaat.html
(diakses pada tanggal 2 Februari 2015).
Gaspersz,
V. 1991. Metode Rancangan Percobaan. Arminco. Bandung.
Ginting, S. P., dan K. R. Pond. 1996. Effects of Grazing Systems
on Pasture Production and Quality of Brachiaria Brizantha and Liveweight Gain
of Lambs. Melbourne.
Australia.
Hardjowigeno.
1992. Ilmu Tanah. PT. Mediyatma Sarana Perkasa. Jakarta.
Havlin,
J.L, T. Suhartini dan E.Rahayu. 2002. Tanaman Sawi dan Selada, PT. Penebar
Swadaya. Depok.
Heddy,
S. 2003. Pemberian Pupuk N dan Interval Defoliasi terhadap Produksi Bahan
Kering Rumput Bebe (Brachiaria brizantha).
Bagian Pertama. PT. Rajagraffindo. Jakarta.
Hermawan,
H. 2013. Makalah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman : Fungsi dan Bentuk Unsur
– Unsur Hara Makro dan Mikro di dalam Tanah dan Tanaman serta Gejala
Defisiensinya. Universitas Syiah
Kuala. Darussalam - Banda Aceh.
Humperys,
L. R. 1974. Pastures Species, Nutritive Value and Manajement. A Course Manual
in Tropical Pastures. A. A. U. C. S. Meulbourne. Australia.
Jusuf,
L. 2006. Potensi
daun gamal sebagai bahan pupuk organik cair. Jurnal Agrisistem Vol.2. No 1.
Lindawati,
N., Izhar dan H. Syafria. 2000. Pengaruh pemupukan nitrogen dan interval
pemotongan terhadap produktivitas dan kualitas rumput lokal kumpai pada tanah podzolik
merah kuning. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 2(2): 130-133.
Little,
L. C. 1968. “ Handbook of Utilization of Aquatic Plant”, FAO Fisherie Technical
Paper”, No. 187. FAO. Roma.
Lubis,
D. A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan. Jakarta.
Luik,
P. 2005. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Jonga-Jonga pada Tanaman
Jagung. Penerbit Kanisus. Jakarta.
Manullang, S.
2012. Hijauan Makanan Ternak. http://manullngs.blogspot.com/
2012/12/hijauan-makaan-ternak_80 62.html. (diakses pada tanggal 15 januari
2015).
Markwell, J.,
John C. Osterman dan Jennifer L. Mitchell. 1995. Calibration of The Minolta SPAD-502 Leaf Chlorophyll Meter. Departments of Biochemistry and Agronomy,
and 2School of Biological Sciences, University of Nebraska, Lincoln. USA.
Marthen.
2007. Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H. Robinson): Gulma
padang rumput yang merugikan. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia (Wartazoa),
Volume 17 No. 1.
Mas’ud,
P. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa. Bandung.
Mathius,
I. M. 1984. Hijauan Gliricidia maculata
Sebagai Pakan Ternak Ruminansia. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
McIlroy,
R.J. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradnya Paramita. Jakarta.
Minson,
D.J. dan Milford. 1981. Nutritional
Diffrences Between Tropical and Temperete Pasture In “ Grazing Animal “.
Ed by F. W. H. Marley. Elsevier Scintifile Publshing Company. Amsterdam.
Mutters, C. 1999. Nitrogen Management in Akitakomachi. Butte
County Rice Industry. Japan.
Phabiola
T. A. dan Khamdan K. 2012. Pengaruh
Aplikasi Formula Pantoea agglomerans Terhadap Aktivitas Antioksidan dan
Kandungan Klorofil Daun Tanaman Strowberi
Reksohadiprojo,
S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makana Ternak Tropik. BPFE. Yogyakarta.
Rismunandar.
1986. Mendayagunakan Tanaman Rumput.
Penerbit Sinar Baru. Bandung.
Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak.
Kanisius. Yogyakarta.
Sabihana,
S. G. Soepardi dan S. Djokosudarjo. 1980. Pupuk dan Pemupukan. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Jakarta.
Sambara,
M. W. 1995. Pengambilan and Efisiensi Pupuk N dan P pada Bagian Daun dan Batang
Rumput Setaria (Setaria anceps). Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Schultze-Kraft.
1992. Forages (Edi). Plant Resources of South-East Asia (PROSEA). No 4.
Wageningen, Netherlands and Bogor. Indonesia.
Sirait, J. 2008.
Luas Daun, Kandungan Klorofil dan Laju
Pertumbuhan Rumput pada Naungan dan Pemupukan yang Berbeda. Loka Penelitian Kambing Potong. Galang
Sumut.
Siregar, M. E
dan A. Djajanegara. 1974. Pengaruh tingkat pemupukan zwavelzuur kalium (zk)
terhadap produksi segar 5 jenis rumput. Buletin L.P.P. Bogor No 12, 1-8
Siregar.
1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar
Swaday. Jakarta.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.
PT. Melton Putra, Jakarta.
Soerohaldoko,
S. 1971. On the Occurrence of Eupatorium odoratum at the Game Reserve
Pananjung. West Java. Weeds in Indonesia.
Sudarmaji S., B. Haryono dan
Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sugiri.
1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik.
Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
Suharno, B dan Nazaruddin. 1994. Ternak
Komersial. PT. Penkar Swadaya. Jakarta.
Sumarsono. 2007. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Sunarjono, H. 2003. Bertanam
30 Jenis Sayur. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Suntoro, S., E.
Handayanto dan Soemarno. 2001. Penggunaan Eceng
gondok (Eichornia crassipes) untuk Meningkatkan Ketersediaan P,
K, Ca, dan Mg Ilmu Pertanian Vol 12 No. 2 pada Oxic Dystrudepth di
Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah. Agrivita. XXIII (1): 20-26.
Suseno,
S. 1974. Limnology. Untuk Sekolah Perikanan Menengah Bogor. Jurusan Budidaya.
Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Perikanan. Bandung.
Susetyo.
1969. Hjauan Makanan Ternak. Direktorat Peternakan Rakyat. Dirjen Peternakan.
Deptan. Jakarta.
Sutedjo,
M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Sutedjo,
M. M.
2004. Peranan Jonga-Jonga Terhadap Sifat Fisik Tanah, PT Rineka Cipta.
Jakarta.
Syarief,
E. S. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Tillman,
A. D., Hartadi. S., Reksohadiprojo S., Prawiro Kusumo, dan S. Lebdosoekodjo.
1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Vanderwoude,
C. S., J.C. Davis and B. Funkhouser. 2005. Plan for National Delimiting Survey
for Siam weed. Natural Resources and Mines Land Protection Services. Queensland
Government.
Wahid, A. S.
2003. Peningkatan efisiensi pemupukan nitrogen pada padi sawah dengan metode bagan
warna daun. Jurnal Litbang Pertanian 22 (4): 156-161.
Whitemen,
P. C. 1980. Tropical Pasture Science. Oxfort Universty Press.
Wilson,
C. G. dan E.B.Widayanto. 2004. Establishment and spread of Cecidochares connexa in eastern indonesia. in: chromolaena in the
asia-pacific region. DAY, M. D. and R. E. Mc Fadyen (Eds.) ACIAR Technical
Reports No. 55. pp. 39-44.
Yulianti, W. 2001.
“Kemampuan eceng gondok sebagai biofilter zat tersuspensi pada konsentrasi
efektif limbah cair tahu”, Jurnal Habitat Universitas Brawijaya Malang,
23-25.
Yunus. M. 1987. Hijauan Makanan Ternak.
Universitas Brawijaya, Malang.