Rabu, 25 Februari 2015

Makalah Usulan Penelitian KANDUNGAN PROTEIN DAN KLOROFIL DAUN RUMPUT Brachiaria brizantha YANG DIBERI PUPUK HIJAU CAIR YANG BERBEDA (On The Way)



Makalah Usulan Penelitian

KANDUNGAN PROTEIN DAN KLOROFIL DAUN
RUMPUT Brachiaria brizantha YANG DIBERI PUPUK HIJAU CAIR
YANG BERBEDA

Oleh :
Ian Roni Rezky Raja Rio M. Sigalingging
I11111336

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/8/83/Logo_Unhas.jpg

PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Peningkatan produktivitas ternak ruminansia di Indonesia dapat dicapai melalui perbaikan penyedian hijauan pakan, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas secara berkesinambungan. Hijauan berupa rumput merupakan sumber pakan utama bagi ternak ruminansia, karena mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan  oleh ternak.
Hijauan makanan ternak di daerah tropis umumnya mempunyai kualitas yang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan hijauan sub-tropis. Hal ini ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar akibat intensitas penyinaran matahari dan temperatur yang tinggi. Pertumbuhan hijauan pakan di daerah tropis sering mengalami kekurangan unsur hara tertentu, walaupun di masing-masing daerah relatif berbeda. Lebih lanjut Hermawan (2013) menjelaskan bahwa jika unsur hara esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan, metabolisme tanaman akan terganggu yang secara visual dapat dilihat dari penyimpangan-penyimpangan pertumbuhannya. Gejala tersebut dapat berbeda  tergantung spesies hijauan. Bisa terjadi tanaman dapat mengalami kekurangan dua unsur atau lebih pada saat bersamaan. Dengan demikian, Petani peternak tentunya dapat menentukan pupuk apa yang tepat diberikan terhadap gejala kekurangan unsur hara bagi tanaman sehingga dapat tumbuh normal kembali.
Pupuk Nitrogen merupakan pupuk yang sangat penting bagi semua tanaman, karena Nitrogen merupakan penyusun dari semua senyawa protein (Lindawati dkk., 2000) dan bagian dari molekul klorofil yang mengendalikan kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis (Mas’ud, 1993). Kecukupan nitrogen akan memberi pembentukkan cadangan makanan yang cukup untuk pertumbuhan tanaman yang optimal.
Korofil berkorelasi positif dengan kadar N daun (Argenta et al., 2004). Pengukuran klorofil dapat dilakukan dengan menggunakan klorofil meter dengan SPAD (Soil Plant Analisis Development) (Argenta et al., 2004). Skala kritis SPAD beberapa tanaman pada musim kemarau adalah 35, yang berarti kandungan hara N pada daun sama dengan 2,90%. Pemberian pupuk N berdasarkan status klorofil daun dengan menggunakan SPAD meter dapat menghemat pupuk urea 30– 40% (Wahid, 2003).
Rumput Brachiaria brizantha merupakan jenis rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan nilai gizi yang cukup tinggi serta disukai ternak ruminansia. Nilai gizi rumput ini dipengaruhi oleh tatalaksana pemeliharaan, antara lain umur pada saat pemotongan, unsur hara, terutama unsur hara makro seperti unsur nitrogen, di mana unsur  nitrogen merupakan salah satu unsur yang sering kurang jumlahnya dalam tanah (Rukmana, 2005). Untuk mengatasi kekurangan ini maka perlu melakukan pemupukan. Unsur hara makro,  terutama  N, P, K dan Ca mungkin banyak ditemukan dalam pupuk hijau cair daun gamal (Gliricidia maculata), jonga-jonga (Cromolaena odorata) dan eceng gondok (Eichhornia crassipes). Untuk mengetahui kandungan protein dan klorofil suatu hijauan maka dilakukan metode pemberian pupuk hijau cair daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok terhadap rumput Brachiaria brizantha.
1.2  Perumusan Masalah
Potensi pemanfaatan hijauan pakan yang sangat baik melalui pemupukan, namun sulit menentukan jenis pupuk yang cocok digunakan. Pemanfaatan pupuk hijau cair jarang digunakan oleh petani peternak dan belum banyak diketahui respon pemupukan pupuk hijau cair daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok terhadap kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
1.3  Hipotesis
Pemberian pupuk hijau cair dari daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok pada rumput Brachiaria brizantha diduga dapat meningkatkan kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
1.4  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk hijau cair dari bahan daun gamal, daun jonga-jonga dan eceng gondok terhadap kandungan protein dan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha.
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi di lingkungan masyarakat tentang pemanfaat pupuk cair daun gamal, daun jonga-jonga dan eceng gondok dalam peningkatan produksi dan kualitas hijauan pakan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Gambaran  Umum Rumput Brachiaria brizantha
Rumput Brachiaria brizantha berasal dari Afrika, rumput ini memiliki karakteristik tumbuh tegak, pangkal batang banyak bercabang, tinggi hamparan kurang lebih satu meter dan pangkal daun berbulu lebat (Rukmana, 2005). Proses penanaman rumput ini menggunakan pols, hidup di tanah struktur ringan, sedang sampai berat. Pada proses penanaman rumput Brachiaria brizantha, juga harus memperhatikan faktor lingkungan antara lain adalah ketersediaan nutrien yang berdampak langsung pada pertumbuhan produksi dan persistensi tanaman (Sumarsono, 2007).
Berikut ini klasifikasi dari rumput Brachiaria brizantha menurut Manullang (2012) :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Poales
Famili              : Poaceae
Genus              : Brachiaria
Spesies            : Brachiaria brizantha
Menurut Reksohadiprodjo (1985), rumput ini dapat tumbuh pada curah hujan 1000 mm/tahun dengan toleransi pH tanah cukup luas mulai dari 6-7. Rumput ini juga tahan terhadap kekeringan selama 6 bulan, cuaca dingin dan penggembalaan. Rumput Brachiaria brizantha dapat dikembangkan dengan stek, pols atau pun biji (Lubis, 1963). Rumput ini dapat diperbanyak dengan pols dengan jarak tanam 40 x 40 cm dengan baris-baris berjarak 60-150 cm (Reskohadiprodjo, 1983). Menurut Rismunandar (1986), perbanyakan rumput Brachiaria brizantha dengan mengggunakan stek jarang dilakukan karena pertumbuhannya tidak optimal. Rumput ini membentuk rizoma yang pendek-pendek dan akarnya dapat menembus ke dalam tanah 30 cm.
Tumbuhnya rumput Brachiaria brizantha semi tegak sampai tegak (prostate/semierect-erect), merupakan rumput yang berumur panjang, tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi hamparan dapat mencapai 30 – 45 cm dan tangkai yang sedang berbunga dapat mencapi tinggi 1m atau tanaman yang tumbuh creeping parennial (Humpreys, 1974). Memiliki rhizoma yang pendek dan tinggi batang sekitar 30-200 cm. Bentuk daun linear biasanya berukuran 10-100 cm x 3-20 mm, berambut atau berbulu dan berwarna hijau gelap. Infloresence (bunga) terdiri dari 2-16 tandan (racemes) dengan panjang 4-20 cm, spikelet dalam satu baris; luas rachis 1 mm, berwarna ungu, spikelet berbentuk elips panjang 4-6 mm, berbulu atau berbulu pada ujungnya, panjang glume sepertiga dari panjang spikelet (Schultze-Kraft, 1992).
Pemotongan  hijauan dapat dilakukan setelah  tanaman mencapai 50 – 100 cm atau tanaman telah berumur 60 sampai  90  hari,  dengan menyisakan batang setinggi 10 sampai 15 cm di atas permukaan tanah (Rismunandar, 1986). Pemotongan pertama rumput Brachiaria brizantha  dapat dilakukan  pada umur  60 hari musim hujan dan umur 70 hari musim kemarau, sedangkan untuk pemotongan selanjutnya  dapat dilakukan  pada umur  40 hari  musim hujan  atau 60 hari  musim kemarau. Reksohadiprodjo (1985) menyatakan bahwa  rumput Brachiaria brizantha yang dipotong tiap 4 minggu akan menghasilkan serat kasar 18,45 % dan protein kasar 10 % lebih tinggi  dari  umur pemotongan lainnya.
2.2  Produksi Rumput Brachiaria brizantha
Makanan ternak berupa hijauan merupakan bahan makanan pokok bagi ternak besar maupun ternak kecil di Indonesia dan terdiri dari hijaun sebangsa rumput, leguminosa, dan hijauan lainnya. Salah satu jenis hijauan makanan ternak yang baik diberikan pada ternak ruminansia adalah rumput Brachiaria brizantha, karena mampu untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak dan tanaman ini mudah tumbuh serta proses adaptasinya sangat baik (Suharno dan Nazaruddin, 1994).
Rumput Brachiaria brizantha merupakan tanaman yang cukup baik untuk kebutuhan ternak, baik dilihat produktivitasnya maupun nutrisi yang terkandung di dalamnya. Dengan memanen pada pertumbuhan yang cocok atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan menghasilkan pakan yang bernilai tinggi. Produksi bahan segar rumput Brachiaria brizantha dapat mencapai 270.000 kg/ha/tahun di daerah basah dengan irigasi yang baik dan penggembalaan ternak harus dilakukan secara rotasi. Rumput Brachiaria brizantha yang dipotong pada tiap 28 hari dapat menghasilkan bahan kering 9,6 ton/ha dengan kandungan protein kasar 11%, sedangkan yang dipotong pada umur 56 hari menghasilkan bahan kering 9,04 ton/ha dengan kandungan protein kasar 6,4% (Reksohadiprodjo, 1985).
Siregar (1996) menyatakan produksi rumput ini pada lahan kering yaitu 40 ton/ha/tahun dengan kandungan protein kasar 13,5%, lemak 3,4%, NDF 64,2%, abu 15,8%, kalsium 0,31%  dan  fosfor 0,37%. Lebih lanjut lagi disarankan agar sebelum diberikan kepada ternak, sebaiknya rumput ini dipotong-potong lebih dahulu (Lubis, 1963).
Produksi Brachiaria, selain dipengaruhi oleh pemupukan, juga dipengaruhi oleh tinggi pemotongan. Siregar (1996) melaporkan produksi Brachiaria pada berbagai tinggi pemotongan adalah 25,10; 82,22; 70,58; 88,38;
94,78 g/rumpun untuk pemotongan 0, 5 cm, 10 cm, 15 cm dan 20 cm dari permukaan tanah. Semakin tinggi tingkat pemotongan produksi yang dihasilkan semakin tinggi. Sedangkan berbagai interval pemotongan yaitu 20, 30, 45 dan 60 hari menghasilkan produksi sebanyak 186,42; 190,98; 170,98 dan 195,18 ton/ha/tahun (Siregar dan Djajanegara, 1974).
2.3  Kualitas Rumput Brachiaria brizantha
Rumput Brachiaria brizantha mempunya produksi bahan kering 40 sampai 63 ton/ha/tahun dengan rata-rata kandungan gizi-gizi yaitu : protein kasar 9,66%, BETN 41,34%, serat kasar 30,86%, lemak 2,24%, abu 15,96 dn TDN 51% (Susetyo, 1969).
Pengamatan yag sama mengenai kualitas rumput Brachiaria brizantha oleh Lubis (1963) menyatakan bahwa rumput Brachiaria brizantha mempunyai nilai gizi yang berdasarkan bahan keringnya, yaitu protein kasar 9,72 %, serat kasar 21,54 % BETN 43,56 %, lemak  1,94 %, dan abu  18,43 %.
Sebagai rumput budidaya yang banyak dipergunakan oleh peternak, Brachiaria memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi pada rumput Brachiaria. Ginting dan Pond (1996) menganalisa khusus kandungan protein kasar rumput Brachiaria brizantha sebesar 10,8 %. Sementara itu Rukmana (2005) melaporkan kandungan protein kasar Brachiaria 9,9 % dengan pembagian pada morfologi daun atas 5,3 %, daun 2,5 %, dan batang 2,1 %, sehingga sesuai kandungan protein kasarnya, Brachiaria tergolongkan ke dalam rumput yang unggul.
Menurut Minson dan Milford (1981) menyatakan bahwa kadar protein kasar rumput Brachiaria brizantha di bawah 7-8% akan menyebabkan konsumsi hijauan menurun. Kandungan protein kasar dan serat kasar pada berbagai taraf pemotongan rumput Brachiaria dilaporkan oleh Rismunandar (1986) adalah, 13,8% dan 29,69% pada pemotongan 20 hari, 8,86% dan 30,63% pada pemotongan 30 hari, 6,24 dan 33,27 pada pemotongan 45 hari serta 5,90 dan 34,1 pada pemotongan 60 hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa protein kasar pada Brachiaria akan cenderung menurun dan serat kasar akan meningkat sesuai dengan bertambahnya umur potong rumput.
Pada tumbuhan dan hewan tidak hanya pada protoplasma pada sel hidup terdiri teutama dari protein tetapi juga nukleusnya yang mengawasi aktivitas setiap sel adalah protein. Pada tumbuh-tumbuhan, sebagian besar dari protein umumnya terkumpul di bagian reproduksi dan di bagian yang tumbuh aktif seperti daun (Anggorodi, 1979). Untuk mengetahui kadar protein dari bahan makanan tersebut perlu ditentukan kadar nitrogennya secara kimiawi. Kemudian angka tersebut dikalikan dengan faktor 6,25. Faktor tersebut digunakan karena zat nitrogen mewakili kurang lebih 16 % dari protein (100/6=6,25). Nilai hayati protein didefinisikan sebagai persentase proein yang diserap dan kemudian digunakan tubuh (Sambara, 1995).  
Di dalam rumen, protein akan diubah menjadi peptide dan selanjutnya menjadi asam amino untuk mikroba rumen. Protein mikroba rumen bersama protein makanan yang tidak mengalami degradasi dalam rumen akan menjadi protein bagi ruminansia yang kemudian dicerna oleh abomasum, sedangkan protein yang mengalami degradasi akan diubah menjadi asam organik, amoniak dan CO2 (Tillman dkk., 1991).
2.4  Klorofil Daun Rumput Brachiaria brizantha
Klorofil memiliki fungsi utama dalam fotosintesis yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan menyediakan energi. Karbohidrat yang dihasilkan dalam fotosintesis diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya (Ai dan Banyo, 2011). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil adalah faktor genetik, cahaya, oksigen, karbohidrat, air, unsur hara seperti Fe, Mg dan N (Dwidjoseputro, 1980).
Rumput sebagai tanaman pakan sangat membutuhkan nitrogen untuk mendukung pertumbuhannya karena nitrogen merupakan unsur esensial pada berbagai senyawa penyusun tanaman termasuk unsur penyusun klorofil. Terdapat dua macam klorofil yaitu klorofil A (C55H72O5N4Mg) dan klorofil B (C55H70O6N4Mg). Klorofil mengumpulkan cahaya serta mentransfer energi ke pusat reaksi pada proses fotosintesis. Klorofil A berperan secara langsung dalam reaksi pengubahan energi radiasi menjadi energi kimia serta menyerap dan mengangkut energi ke pusat reaksi molekul. Sementara itu, klorofil B berfungsi sebagai penyerap energi radiasi yang selanjutnya diteruskan ke klorofil A. Meningkatnya klorofil B berdampak positif terhadap efektivitas penyerapan energi radiasi pada kondisi yang ternaungi (Sirait, 2008).
Pengukuran klorofil daun dapat dilakukan menggunakan klorofil meter SPAD (Soil Plant Analisis Development) 502 sebagai salah satu alternatif untuk mengetahui kecukupan hara N pada tanaman. Klorofil berkorelasi positif dengan kadar N daun (Argenta et al., 2004).
Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat sering membatasi hasil tanaman karena kekurangan nitrogen akan menghambat fotosintesa serta mengurangi sintesis protein (Suseno, 1974). Nitrogen merupakan usur hara utama bagi pertumbuhan tanaman sebab merupakan penyusun dari semua protein dan asma nukleit dan dengan demikian merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan (Syarief, 1985). Unsur hara nitrogen berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan, menguatkan hijauan dan meningkatkan kadar protein (Rismunandar, 1986).
Berikut ini estimasi kandungan nitrogen daun di akitakomachi, jepang menggunakan Minolta Chlorofil meter :



Tabel 1. Estimasi Kandungan Nitrogen Daun Di Akitakomachi, Jepang Menggunakan Minolta Chlorofil Meter

Nilai Klorofil Meter (SPAD)
Skala
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
% N
1,90
2
2,10
2,20
2,30
2,40
2,50
2,60
2,70
2,80
2,90
3
Sumber : Mutters (1999).
Skala kritis SPAD beberapa tanaman pada musim kemarau adalah 35, berarti kandungan hara N pada daun sama dengan 2,90%. Pemberian pupuk N berdasarkan status klorofil daun dengan menggunakan SPAD meter dapat menghemat pupuk urea 30– 40% (Wahid, 2003), karena dengan mengatahui status klorofil secara aktual, kita dapat memberi perlakuan pupuk yang optimal untuk tanaman sesuai kebutuhan.
2.6  Pemupukan
Pupuk adalah suatu bahan yang diberikan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengganti unsur-unsur hara yang hilang dari dalam tanah. Tiap – tiap jenis pupuk mempunyai kandungan unsur hara, kelarutan dan kecepatan kerja yang berbeda sehingga dosis dan jenis pupuk yang diberikan berbeda untuk tiap jenis tanaman dan jenis tanah yang digunakan (Hardjowigeno, 1992).
Ada 3 unsur hara utama dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan, reproduksi, dan produksi, yaitu nitrogen, fosfat dan kalium. Pemberian pupuk nitrogen merupakan faktor penting dalam usaha peningkatan produksi dan kekurangan unsur hara tersebut akan menyebabkan tanaman menjad kerdil atau kecil, warna daun merah dan kekuning-kuningan (Susetyo, 1969). Penambahan nitrogen kedalam padang rumput akan meningkatkan produksi bahan kering dan kualitas hijaun makanan ternak terutama kadar proteinnya (Humperys, 1974).
Tanaman menyerap unsur hara dalam tanah dalam bentuk kation dan anion, jadi dalam bentuk yang larut dalam air. Pada umumnya nitrogen diambil oleh tanaman dalam bentuk Amonium (NH4+) dan Nitrat (NO3-), tapi Nitrat yang terserap segera terreduksi menjadi ammonium melalui enzim yag mengandung molibdenium. Ion-ion Amonium dan beberapa karbohidrat mengalami sintesis dalam daun dan diubah menjadi asam amino yang akan membentuk protein, terutama terjadi dalam daun hijauan (Syarief, 1985).
Pemberian pupuk nitrogen pada tanaman mempunyai peranan dalam merangsang pertumbuhan jaringan tanaman, jumlah anakan (tiller) dan lebar daun. Tapi kelebihan unsur nitrogen akan memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan vegetatif), batangnya lemah, mudah rebah dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit (Soepardi, 1983).
Sutedjo (2004) menyatakan rumput Brachiaria brizantha apabila telah berumur 2 minggu bisa diberikan pupuk nitrogen berupa urea, 150 kg/ha yang dibenamkan ± 4 cm di setiap sisi deretan tanaman, karena tanaman pada umur 2 minggu itu akarnya sudah mulai aktif.
Menurut Heddy (2003) menyatakan bahwa pada tanaman rumput Brachiaria brizantha yang dipupuk, produksi bahan kering yang dipotong pada interval 25 hari lebih rendah dari pada kandungan bahan kering pada 50 hari. Produksi bahan kering pada interval 25 hari adalah 15.185,74g/ha/petak, sedangkan pada pemotongan 50 hari produksi bahan keringnya adalah 28.482,5 rumput Brachiaria brizantha sebagai hijauan makanan ternak ditentukan oleh zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya dan kecernaannya (McIlroy, 1977).
2.7  Pupuk Hijau Cair
Untuk menjamin agar memperoleh produksi hijauan yang kontinu, maka salah satu jalan yang harus ditempuh adalah memperbaiki keadaan tanah dengan cara pendangiran dan pemupukan (Reksohadiprodjo, 1985).
Peranan pupuk hijau cair yaitu meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, daun lebih hijau dan meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Sutedjo, 1995). Kekurangan dan kelebihan pupuk hijau cair akan berdampak terhadap kualitas dan produktivitas hijauan. Kekurangan pupuk dapat mengakibatkan pertumbuhan vegetatif terlambat dalam pemasakan buah dan biji, tanaman lemah dan mudah rebah dan menambah kepekaan terhadap penyakit. Sedangkan kelebihan dari pupuk hijau cair yaitu dapat mempercepat pertumbuhan vegetatif terutama daun, pengisian biji, akar, meningkatkan kandungan protein, merangsang pertunasan dan menambah tinggi tanaman (Sabihana dkk., 1980).
Yunus (1987) menyatakan bahwa semakin tua tanaman proporsi batang dengan daun semakin besar di mana batang akan kurang mengandung protein. Makin besar perbandingan daun dengan batang, kualitas hijauan semakin tinggi sebab daun kualitasnya lebih tinggi dari pada batang. Hal ini menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman yang akan dijadikan pupuk hijau cair. Suntoro dkk. (2001) menyatakan bahwa suatau tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau apabila (1) cepat tumbuh (2) bagian atas banyak dan lunak (succulent); dan (3) kesanggupannya tumbuh cepat pada tanah yang kurang subur, sehingga cocok dalam rotasi untuk penyediaan jangka panjangnya.
2.8  Pupuk Hijau Cair Daun Gamal (Gliricidia maculata)
Gamal merupakan jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber hijauan pakan ternak ruminansia dan juga sebagai sumber pupuk hijau cair. Gamal berbentuk pohon dengan ukuran sedang dan dikenal sebagai tanaman jenis kacang-kacangan (Mathius, 1984). Menurut Sugiri, (1980), gamal sebagai pupuk hijau cair mempunyai kandungan unsur hara cukup tinggi untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk hijau cair gamal lebih baik dibandingkan dengan daun lamtoro.
Kandungan nutrisi pupuk cair daun gamal (Gliricidia maculata) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :
Komponen
Persentase
Bahan Kering
22,1
Protein Kasar
23,5
Kalsium (Ca)
1,35
Fosfor (P)
0,07
Nitrogen (N)
3,15
Kalium (K)
2,12
Abu
5,7
Tabel 2. Kandungan Nutrisi daun gamal (%)
Sumber : Havlin dkk.  (2002)
Berdasarkan tabel di atas, daun gamal yang dibuat pupuk cair memiliki potensi yang tinggi, sehingga penggunaan dari pupuk cair tersebut banyak digunakan pada tanaman pangan diantaranya tanaman jagung dan sawi. Hasil pemberian pupuk cair daun gamal pada tanaman jagung 3 ton ha -1 /  tahun  dan tanaman sawi 2-6 ton ha-1. /tahun. Pupuk cair daun gamal itu diberikan pada tanaman dengan cara disemprotkan atau disiramkan 2 minggu setelah penanaman tanaman (Sunarjono, 2003).
2.9  Pupuk Hijau Cair Jonga-jonga  (Chromolaena odorata)
Chromolaena odorata menyebar di kepulauan Indonesia sejak Perang Dunia II. Dengan penyebaran itu kini jonga-jonga dapat dijumpai di semua pulau-pulau besar di Indonesia (Wilson dan Widayanto, 2004). Gulma ini dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah dan tumbuh lebih baik lagi apabila mendapat cahaya matahari yang cukup (Vanderwoude et al., 2005). Kondisi yang ideal bagi gulma ini adalah wilayah dengan curah hujan > 1000 mm/tahun. Gulma ini tumbuh dengan baik di tempat-tempat yang terbuka seperti padang rumput, tanah terlantar dan pinggir-pinggir jalan yang tidak terawat (Binggeli, 1997).
Soerohaldoko (1971) melaporkan mengenai kerugian dari Chromolaena odorata terhadap ternak mengenai keberadaannya di cagar alam Pananjung, Jawa Barat yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.
Chromolaena odorata dapat berkembang dengan cepat dan mampu tumbuh di lahan yang kurang subur. Jika dipangkas, maka tiga bulan kemudian akan tumbuh kembali. Gulma ini dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kompos jonga-jonga memiliki nilai hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan hara pada pupuk kandang dari kotoran sapi (Vanderwoude et al., 2005), dengan komposisi 2.42 % N, 0.26 % P, 50.40 % C, dan 20.82 C/N. Nilai C/N ini menunjukkan proses dekomposisi yang lebih cepat dibandingkan dengan pupuk kandang (25-30). Selain itu, daun dan ranting hijaunya dapat dipakai untuk membuat pupuk cair (Fitri, 2013).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun jonga-jonga (Cromolaena odorata) dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Kandungan nutrisi dari daun jonga-jonga (%)
Kandungan Nutrisi
Persentase
Bahan Kering
12,4
Protein Kasar
20-30
Kalsium (Ca)
0,14
Fosfor (P)
0,42
Nitrogen (N)
2,65
Energi (Kkal/kg)
3.583,5
Sumber : Marthen (2007)
Hasil studi Luik (2005)  pada jagung menunjukan bahwa pemberian pupuk organik cair jonga-jonga 30 ton/ha mampu meningkatkan kandungan NPK tanah maupun dalam jaringan tanaman dan mampu meningkatkan hasil tanaman jagung 4,83 kg/16 m2 dibandingkan tanpa pemberian jonga-jonga yaitu 4,09 kg/16m2Dengan demikian pemberian jonga-jonga mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah.
Pemberian jonga-jonga sebagai pupuk baik dalam bentuk padat maupun cair dapat meningkatkan hasil produksi tanaman sayur dan buah. Pupuk dalam bentuk cair lebih baik dari pada dalam bentuk padat, karena unsur hara di dalamnya akan lebih mudah dan cepat diserap oleh tanaman. Kandungan unsur N dan K jonga-jonga sangat tinggi, sedangkan unsur P jonga-jonga tergolong sedang. Hasil penelitian Sutedjo (2004) mengenai peranan jonga-jonga terhadap sifat fisik tanah menunjukan bahwa tekstur tanah dipengaruhi secara nyata oleh kandungan nutrien dari jonga-jonga.
2.10  Pupuk Hijau Cair Eceng gondok (Eichhornia crassipes)
Eceng gondok merupakan gulma yang sangat cepat berkembang, apabila tidak dikendalikan akan mengakibatkan masalah lingkungan, selain memberikan dampak negatif, eceng gondok juga memberikan dampak positif antara lain sebagai bahan baku pupuk organik. Dari hasil analisis kimia bahan organik eceng gondok mempunyai kandungan yaitu 1,30% N, 0,24 % P dan C/N ratio 12,25 (Yulianti, 2001).
Kandungan nutrisi pupuk cair daun eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dilihat pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Kandungan nutrisi dari eceng gondok (%)
Kandungan Nutrisi
Persentase
Bahan Kering
15
Protein Kasar
12,99
Kalsium (Ca)
0,14
Fosfor (P)
0,6
Nitrogen (N)
2,3
Abu
4,2
Sumber : Suntoro dkk.  (2001)
Pemilihan eceng gondok sangat baik digunakan sebagai pupuk cair.  Little (1968) menerangkan bahwa eceng gondok banyak menimbulkan masalah pencemaran sungai dan waduk, tetapi mempunyai manfaat salah satu diantaranya adalah sebagai bahan penutup tanah (mulsa) dan kompos dalam kegiatan pertanian perkebunan. Pupuk eceng gondok kaya asam humat. Itu lantaran eceng gondok kaya serat lignin dan selulosa. Hasil penguraian keduanya menghasilkan asam humat. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman sehingga tanaman lebih optimal menyerap hara dan produktivitas pun meningkat.
Yulianti (2001) melaporkan bahwa efek pemberian pupuk eceng gondok dengan berbagai dosis yaitu 10 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha pada tanaman padi menunjukkan semakin banyak pemberian pupuk organik cair eceng gondok, makin tinggi produktivitas padi. Produksi tertinggi diperoleh setelah menambahkan 30 ton pupuk/ha. Hasil panen mencapai 6,8 ton/ha, lebih tinggi daripada rata-rata produksi padi nasional sekitar 3–4 ton/ha. Maka eceng gondok merupakan pupuk yang baik, bukan sebagai gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan ini dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu mulai tanggal 1 Januari sampai 27 Februari 2015 untuk proses pemeliharaan di Lahan Pastura Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, dilanjutkan tanggal 27 Februari sampai 2 Maret 2015 untuk perhitungan bahan kering, dan kemudian tanggal 2 Maret sampai 5 Maret 2015 untuk pengujian kandungan protein di Laboratorium Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2  Materi Penelitian
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cangkul, parang, ayakan tanah, meteran, gunting rumput, ember, selang plastik, gelas ukur, saringan teh, timbangan, pot dengan ukuran diameter atas 22 cm x diameter bawah 18 cm x tinggi 26 cm, klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502, dan seperangkat alat pengujian protein metode Kjeldahl.
Bahan-bahan yang digunakan adalah air, pupuk hijau cair berasal dari daun gamal, jonga-jonga, eceng gondok, EM4, tanah dan anakan rumput Brachiaria brizantha, serta bahan-bahan dalam pengujian kandungan protein metode Kjeldahl.
3.3  Metode Penelitian
a.  Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan (Gaspersz, 1991). Perlakuan pemupukan yaitu :
      P0   =  Rumput Brachiaria brizantha tanpa pupuk cair (kontrol)
      P1  =  Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair  daun gamal 70 ml/Pot
      P2  =  Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun jonga-jonga 84 ml/Pot
      P3  =  Rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair daun eceng gondok 95 ml/Pot
Model matematikanya adalah sebagai berikut :
Yij = µ + Ni  + ∑ijk
Di mana :
Yij   =  Hasil pengamatan dari perlakuan ke- i dan kelompok ke – j
µ    =  Rata-rata pengamatan
Ni   =  Pengaruh pemberian pupuk ke – I
ijk  = Kesalahan eksprimen atau penelitian
b.  Pelaksanaan Penelitian
1.      Pembuatan Pupuk Hijau cair
Pupuk yang digunakan berasal dari daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok. Mula – mula daun ini dipetik, kemudian dipisahkan dari batangnya. Masing-masing bahan (daun gamal, jonga-jonga dan eceng gondok) dimasukan kedalam ember. Setiap perlakuan berisi 10 kg daun segar yang telah dicincang menggunakan parang. Daun segar yang telah dicincang kemudian dimasukkan kedalam ember, kemudian diisi air yang telah dihomogenkan dengan EM4 5 % dari total bahan yang akan digunakan. Perbandingan antara berat daun segar yang telah dicincang dengan air adalah 2 kg daun segar dan 1 liter air. Ember dikondisikan selalu tertutup, agar tidak ada unsur hara yang hilang akibat penguapan. Bagian atas tutup ember diberi lubang khusus untuk selang kecil, ujung selang dimasukkan kedalam botol yang telah berisi air guna untuk membuang gas yang berlebihan didalam ember. Hasilnya disaring dari dalam ember setelah 7-14 hari setelah isi ember itu tidak berbau dan kelihatan  menyusut. Larutan dalam ember itulah  yang disebut dengan pupuk cair dan siap untuk digunakan pada tanaman (Jusuf, 2006 ).
2.      Penanaman
Tanah yang digunakan diperoleh dari Lahan Pastura Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Mula-mula tanah tersebut dihancurkan, kemudian dibersihkan dan diayak untuk mengeluarkan batu, sisa-sisa tanaman dan materil-materil lainnya, lalu dihomogenkan. Tanah yang digunakan  pada penelitian ini bertekstur lempung liat berpasir (Tanah Litosol)  dengan pH 6,28 dan kandungan N 0,18%. Tanah yang telah diisi dalam pot ukuran 22 x 18 x 26 cm ditanami anakan rumput Brachiaria brizantha dengan tinggi anakan 25 cm sebanyak 1 anakan setiap pot. Jarak antara pot yang satu dengan pot yang lain kurang lebih 40 cm. Setelah penanaman, dilakukan penyiraman setiap hari dengan jumlah air yang diberikan sama pada setiap pot menggunakan gelas ukur dan dibiarkan tumbuh selama 2 minggu. Setelah tumbuh, baru penerapan perlakuan mulai dilakukan dengan memberi pupuk cair dari daun gamal 70 ml/ pot, jonga-jonga 84 ml/ pot dan eceng gondok 95 ml/ pot. Pupuk cair disiramkan merata di sekitar tanaman. Disamping itu dilakukan pembersihan gulma untuk menghindari persaingan tanaman dalam penyerapan unsur hara.
Denah penempatan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Table 5. Denah Penempatan Perlakuan Penelitian
PERLAKUAN
P33
P23
P02
P14
P04
P12
P31
P21
P22
P34
P13
P03
P11
P01
P24
P32

Keterangan :    P0         : Rumput Brachiaria brizantha tanpa diberi pupuk cair
(Kontrol).
P1         : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair
daun Gamal.
P2         : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair
daun Jonga-jonga
P3         : Perlakuan rumput Brachiaria brizantha + pupuk hijau cair
Eceng Gondok.
Pemotongan rumput Brachiaria brizantha dilakukan yaitu pada umur 60 hari. Pengukuran tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun dan luas daun dilakukan sebelum pemotongan tanaman. Pemotongan rumput ini sekitar 10 cm dari pangkal batang tanaman atau permukaan tanah, bagian yang sudah dipotong dimasukkan kedalam kantong lalu ditimbang untuk mengetahui berat segarnya. Bagian yang sudah timbang berat segarnya dimasukkan kedalam oven dengan suhu 70 0 C selama 24 jam untuk mengetahui berat kering. Setelah itu baru timbang berat akarnya.
3.   Parameter yang diamati
Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu kandungan klorofil daun rumput Brachiaria brizantha yang diamati menggunakan alat klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502 (Phabiola dan Khamdan, 2012), dan kandungan protein rumput Brachiaria brizantha dengan metode Kjeldahl (Sudarmaji dkk., 1989).
4.      Analisis Statistik
Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan (Gasperzs, 1991) yang selanjutnya akan dilanjutkan uji BNT menggunakan SPSS untuk perlakuan yang berpengaruh nyata.





DAFTAR PUSTAKA
Ai, N. S. dan Y. Banyo. 2011. Konsentrasi klorofil daun sebagai indikator kekurangan air pada tanaman. Jurnal Ilmiah Sains. 11:166-171.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.
Argenta, G., P. R. F. Silva, dan L. Sangoi. 2004. Leaf relative chlorophyll content as an indicator parameter to predict nitrogen fertilization in maize. Ciência Rural. Santa Maria. Journal Vol.34, n.5, p.1379-1387.
Binggeli, P. 1997. Chromolaena Odorata. Woody Plant Ecology. Ecology/docs/web-sp4.htm (diakses 20 November  2014).
Crampton, E. W.  dan  L.E. Haris 1969.  Applied  Animal  Nutrition  2nd  ed  W.N  Freeman  and New York.
Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ke-2, PT. Gramedia, Jakarta.
Fitri, Y. A. 2013. Kirinyuh (Chromolaena odorata), Gulma dengan banyak potensi manfaat. http://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita-226-kirinyuh-chromolaena-odorata-gulma-dengan-banyak-potensi-manfaat.html (diakses pada tanggal 2 Februari 2015).
Gaspersz, V. 1991. Metode Rancangan Percobaan. Arminco. Bandung.
Ginting, S. P., dan K. R. Pond. 1996. Effects of Grazing Systems on Pasture Production and Quality of Brachiaria Brizantha and Liveweight Gain of Lambs. Melbourne. Australia.  
Hardjowigeno. 1992. Ilmu Tanah. PT. Mediyatma Sarana Perkasa. Jakarta.
Havlin, J.L, T. Suhartini dan E.Rahayu. 2002. Tanaman Sawi dan Selada, PT. Penebar Swadaya. Depok.
Heddy, S. 2003. Pemberian Pupuk  N dan  Interval Defoliasi terhadap Produksi Bahan Kering Rumput Bebe (Brachiaria brizantha). Bagian Pertama. PT. Rajagraffindo. Jakarta.
Hermawan, H. 2013. Makalah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman : Fungsi dan Bentuk Unsur – Unsur Hara Makro dan Mikro di dalam Tanah dan Tanaman serta Gejala Defisiensinya. Universitas Syiah Kuala. Darussalam - Banda Aceh.
Humperys, L. R. 1974. Pastures Species, Nutritive Value and Manajement. A Course Manual in Tropical Pastures. A. A. U. C. S. Meulbourne. Australia.
Jusuf, L. 2006. Potensi daun gamal sebagai bahan pupuk organik cair. Jurnal Agrisistem Vol.2. No 1.
Lindawati, N., Izhar dan H. Syafria. 2000. Pengaruh pemupukan nitrogen dan interval pemotongan terhadap produktivitas dan kualitas rumput lokal kumpai pada tanah podzolik merah kuning. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 2(2): 130-133.
Little, L. C. 1968. “ Handbook of Utilization of Aquatic Plant”, FAO Fisherie Technical Paper”, No. 187. FAO. Roma.
Lubis, D. A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan. Jakarta.
Luik, P. 2005. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Jonga-Jonga pada Tanaman Jagung. Penerbit Kanisus. Jakarta.
Manullang, S. 2012. Hijauan Makanan Ternak. http://manullngs.blogspot.com/ 2012/12/hijauan-makaan-ternak_80 62.html. (diakses pada tanggal 15 januari 2015).
Markwell, J., John C. Osterman dan Jennifer L. Mitchell. 1995. Calibration of The Minolta SPAD-502 Leaf Chlorophyll Meter. Departments of Biochemistry and Agronomy, and 2School of Biological Sciences, University of Nebraska, Lincoln. USA.
Marthen. 2007. Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H. Robinson): Gulma padang rumput yang merugikan. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia (Wartazoa), Volume 17 No. 1.
Mas’ud, P. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa. Bandung.
Mathius, I. M. 1984. Hijauan Gliricidia maculata Sebagai Pakan Ternak Ruminansia. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
McIlroy, R.J. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradnya Paramita. Jakarta.
Minson, D.J. dan Milford. 1981. Nutritional  Diffrences Between Tropical and Temperete Pasture In “ Grazing Animal “. Ed by F. W. H. Marley. Elsevier Scintifile Publshing Company. Amsterdam.
Mutters, C. 1999. Nitrogen Management in Akitakomachi. Butte County Rice Industry. Japan.
Phabiola T. A. dan Khamdan K. 2012. Pengaruh Aplikasi Formula Pantoea agglomerans Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Klorofil Daun Tanaman Strowberi
Reksohadiprojo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makana Ternak Tropik. BPFE. Yogyakarta.
Rismunandar. 1986. Mendayagunakan Tanaman Rumput.  Penerbit Sinar Baru. Bandung.
Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Kanisius. Yogyakarta.
Sabihana, S. G. Soepardi dan S. Djokosudarjo. 1980. Pupuk dan Pemupukan. Departemen  Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Jakarta.
Sambara, M. W. 1995. Pengambilan and Efisiensi Pupuk N dan P pada Bagian Daun dan Batang Rumput Setaria (Setaria anceps). Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Schultze-Kraft. 1992. Forages (Edi). Plant Resources of South-East Asia (PROSEA). No 4. Wageningen, Netherlands and Bogor. Indonesia.
Sirait, J. 2008. Luas Daun, Kandungan Klorofil dan Laju Pertumbuhan Rumput pada Naungan dan Pemupukan yang Berbeda. Loka Penelitian Kambing Potong. Galang Sumut.
Siregar, M. E dan A. Djajanegara. 1974. Pengaruh tingkat pemupukan zwavelzuur kalium (zk) terhadap produksi segar 5 jenis rumput. Buletin L.P.P. Bogor No 12, 1-8
Siregar. 1996.  Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swaday. Jakarta.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. PT. Melton Putra, Jakarta.
Soerohaldoko, S. 1971. On the Occurrence of Eupatorium odoratum at the Game Reserve Pananjung. West Java. Weeds in Indonesia.
Sudarmaji S., B. Haryono dan Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sugiri. 1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
Suharno, B dan Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. PT. Penkar Swadaya. Jakarta.
Sumarsono. 2007. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Sunarjono, H.  2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Suntoro, S., E. Handayanto dan Soemarno. 2001. Penggunaan Eceng gondok (Eichornia crassipes) untuk Meningkatkan Ketersediaan P, K, Ca, dan Mg Ilmu Pertanian Vol 12 No. 2 pada Oxic Dystrudepth di Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah. Agrivita. XXIII (1): 20-26.
Suseno, S. 1974. Limnology. Untuk Sekolah Perikanan Menengah Bogor. Jurusan Budidaya. Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Perikanan. Bandung.
Susetyo. 1969. Hjauan Makanan Ternak. Direktorat Peternakan Rakyat. Dirjen Peternakan. Deptan. Jakarta.
Sutedjo, M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Sutedjo, M. M. 2004. Peranan Jonga-Jonga Terhadap Sifat Fisik Tanah, PT Rineka Cipta. Jakarta.
Syarief, E. S. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Tillman, A. D., Hartadi. S., Reksohadiprojo S., Prawiro Kusumo, dan S. Lebdosoekodjo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Vanderwoude, C. S., J.C. Davis and B. Funkhouser. 2005. Plan for National Delimiting Survey for Siam weed. Natural Resources and Mines Land Protection Services. Queensland Government.
Wahid, A. S. 2003. Peningkatan efisiensi pemupukan nitrogen pada padi sawah dengan metode bagan warna daun. Jurnal Litbang Pertanian 22 (4): 156-161.
Whitemen, P. C. 1980. Tropical Pasture Science. Oxfort Universty Press.
Wilson, C. G. dan E.B.Widayanto. 2004. Establishment and spread of Cecidochares connexa in eastern indonesia. in: chromolaena in the asia-pacific region. DAY, M. D. and R. E. Mc Fadyen (Eds.) ACIAR Technical Reports No. 55. pp. 39-44.
Yulianti, W. 2001. “Kemampuan eceng gondok sebagai biofilter zat tersuspensi pada konsentrasi efektif limbah cair tahu”, Jurnal Habitat Universitas Brawijaya Malang, 23-25.
Yunus. M. 1987. Hijauan Makanan Ternak. Universitas Brawijaya, Malang.